Menyoal Wisuda

Seorang ibu dari pelosok Sumatera Barat menangis menelepon saya, khawatir anaknya tak bisa ikut wisuda. Pasalnya, pendaftaran wisuda sudah tutup dan anaknya belum terdaftar. “Tolonglah Pak. Ini bukan salah anak saya, tapi semata karena kesalahan saya yang terlambat mengirim biaya wisuda untuk dia!” tegasnya  penuh penyesalan.

Selesai telepon, saya nelangsa. Terbayang wajah seorang ibu yang  penuh tanggung jawab membiayai anak hingga sarjana, malah harus menangis merasa bersalah. Ibu yang seharusnya bahagia karena anaknya berhasil jadi sarjana, malah bersedih hanya gara-gara  takut anaknya tak bisa ikut wisuda. Seolah tanpa wisuda, anaknya belum afdol jadi sarjana. Tanpa hadir dalam wisuda, dia belum yakin anaknya sudah sarjana.

WisudaTeringat guru saya, almarhum Ali Moechtar Hoeta Sohoet, pendiri Sekolah Tinggi Publisistik (STP) — sekarang IISIP. Hoeta Soehoet terkenal sangat anti terhadap wisuda menggunakan toga. Maka sejak berdiri hingga sekarang, wisuda di kampusnya selalu berlangsung sederhana. Wisudawan mengenakan baju batik dan wisudawati berkebaya, sedangkan pejabat perguruan tinggi mengenakan batik.

Saya pernah menanyakan secara khusus tentang wisuda kepada  tokoh  tersebut. Hoeta Soehoet yang saya kenal sebagai ahli sejarah komunikasi memberi penjelasan sangat masuk akal. Dia bilang, prosesi wisuda seperti yang banyak dipraktekkan sekarang berawal dari abad pertengahan. Ketika itu, ilmu pengetahuan dan kebenaran dikuasai oleh gereja, maka semua tata cara prosesi wisuda mencontoh prosesi di gereja.

“Dulu kebenaran itu milik gereja,  siapapun yang bertentangan dengan kepercayaan gereja akan dianggap berkhianat terhadap kebenaran”, ujarnya. Saya langsung mengangguk setuju. Di benak saya teringat cerita Copernicus yang hanya gara-gara mengatakan “bumi ini bulat” langsung dihukum mati.

Setelah mengikuti berbagai kegiatan wisuda di beberapa kampus berbeda, saya makin yakin bahwa  wisuda itu seremoni biasa.  Prosesi wisuda tidak  berpengaruh terhadap gelar sarjana. Prosesi  “sederhana” tidak menurunkan nilai kesarjanaan dan acara wisuda “mewah” tidak menaikkan derajat kesarjanaan. Bahkah tidak ikut wisuda pun tidak mungkin membatalkan statusnya sebagai  sarjana.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>