Warisan Loper Koran

Seorang loper koran terbaring lemah di ICU sebuah rumah sakit. Dia didampingi istri dan tiga anaknya. Merasa tidak mungkin bertahan lama,  sang loper berpesan pada keluarganya:

“Mungkin usia Bapak sudah tak lama lagi. Bapak berharap kalian bertiga menjaga Ibumu sebaik mungkin. Jangan ada di antara kalian bertengkar karena hal sepele, apalagi berebut warisan dari Bapak”.

Koran Publik

Istri dan ketiga anaknya saling berpandangan, lalu mulai mengalir air mata membasahi pipi masing-masing.

“Dul, sebagai anak tertua tolong urus perumahan Cinere. Jangan lupa datang pagi sekali ke rumah paling pojokan”, si Bapak memulai pesan.

“Marni, sebagai anak perempuan satu-satunya,  urus Perumahan Mutiara. Jangan lupa, prioritaskan rumah nomer lima dari depan”.

“Lalu Banu, sebagai anak bontot  harus bisa mengurus Perumahan Pesona. Di sana ada rumah yang harus diprioritaskan, yaitu di Blok FG-5 dan GF-5″.

Ketiga anaknya saling pandang, lalu mengangguk lemah pada ayahnya. Air mata ketiganya mengalir makin deras.

“Nah, Ibu harus menjaga kerukunan anak-anak kita. Maka Ibu cukup mengurus yang ada di sekitar kelurahan kita”.

Suster rupanya mendengar pembicaraan itu. Dia takjub lalu berbisik pada si Ibu. “Aduh suami Ibu benar-benar hebat, meski hanya loper koran tapi bisa meninggalkan warisan sebanyak itu”.

Si Ibu terbelalak. “Warisan apaan sih Suster? Yang dibicarakan Bapak tadi adalah jalur pelanggan koran Bapak!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>