U lama dan U baru

Entah ingin menguji atau sekedar mau tahu, seorang teman WA menanyakan apa yang dimaksud dengan “Ulama”. Saya mencoba menjelaskan sesuai pengetahuan, bahwa ulama itu tokoh agama Islam yang mempunyai pengetahuan luas tentang keislaman.

“Apa mungkin ada ulama palsu?” tanyanya mengejutkan saya.
“Ya, mungkin saja!” jawab saya sekenanya. “Jangankan ulama, nabi aja ada yang palsu!”
“Bagaimana membedakan ulama asli dan yang  palsu?” desaknya.

Saya menangkap ada hal ganjil dalam pertanyaan tersebut. Apalagi sekarang sedang terjadi “perang” pendapat antar ulama dan antar orang yang mengaku ulama. Saya menduga, penjelasan saya  akan dijadikan jastifikasi untuk mengelompokkan para ulama.  “Aduh kalau soal itu, maaf saya gak bisa menjelaskan. Saya gak tahu!” jawab saya tegas.   

Saya sengaja tidak jawab pertanyaan tersebut karena tidak memiliki kompetensi dan kemampuan menjawab persoalan seperti itu. 

arje“Paling saya bisa membedakan antara ‘U’ lama dan ‘U’ baru”, goda saya disertai gambar “emoticon” senyum tiga kali.

“Bagaimana?” tanyanya.

“ya,  kalau U yang lama, lambangnya “oe”,  seperti digunakan pada nama Soekarno dan Ali Moechtar Hoeta Soehoet, sedangkan U yang  baru seperti pada nama Gus Dur dan Yusuf Mansyur.

Alhamdulillah kami bisa menutup pembicaraan dengan ringan. “Bisa aja Abang ini!” ujarnya disertai gambar “emoticon” tujuh kali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>