Turunan vs Tanjakan

Di tengah persaingan politik, banyak orang berdebat soal turunan dan tanjakan. Bagi si mata kucel atawa lamur, akan fokus melihat pada turunan. Soalnya dia cepat silau pada turunan raja, turunan kaya, apalagi turunan suci. Sedangkan pada turunan biasa, apalagi turunan bejat,  gak bakalan dianggap karena gak pantas jadi apa, kecuali jadi bejat juga.

Padahal kita lihat, ada orang bernama Aceng, keturunan Ajengan, tapi tingkahnya memalukan. Ada orang benama Gus, turunan Kyai, tahunya menipu sana-sini. Juga ada yang menggunakan nama Habib, tahunya bukan turunan Nabi dan kelakuannya bikin miris!

Beda dengan si mata bening alias belo, lebih fokus memandang tanjakan. Baginya, meski berasal dari lumpur, kalau iman, ilmu, harta, atawa jabatannya menanjak pantas diacungi jempol. Sebaliknya, meski  menggunakan nama turunan, kalau begajul tetap dibilang bejat.

Mata saya agak rabun sih, tapi gak lamur karena belum katarak!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>