Tersandung Hukum Karena Kata

arje3Ketika menulis “Hati-hati Gunakan Kata”,  utamanya untuk menasehati diri sendiri.  Seiiring berjalan waktu, nasehat tersebut makin relevan setelah satu persatu tokoh yang biasa memberi nasehat menggukan kata, justru tersandung kasus hukum karena persoalan “kata”. Contoh Mario Teguh,  Basuki Tjahaja Purnama, dan Rizieq Shihab, tersandung kasus hukum karena kata   yang diucapkan melalui media.

Mario Teguh, motivator terkenal yang sering menghiasi layar kaca, dituntut mantan istrinya karena mengucapkan kata tuduhan  “berbagi  ranjang dengan pria lain”. Dia juga  di-bully  masyarakat   karena menyampaikan pernyataan panjang lebar menyudutkan Ario  Kiswinar, padahal itu anaknya.

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok tersandung kasus penistaan agama gara-gara ucapan: “Jangan mau dibohongi pakai Al Maida 51″, sehingga menyinggung para ulama. Bahkan Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa bahwa Ahok telah menistakan ulama dan agama Islam. Coba kalau Ahok bilang: “jangan mau dibohongi politikus menggunakan ayat kitab suci”, mungkin yang tersinggung  hanya para politisi yang biasa menjaring dukungan menggunakan ayat kitab suci. Begitu juga dengan Rizieq Shihab, tersandung kasus hukum gara-gara mengucapkan kata: campurracun; Pancasila Soekarno, ketuhanan ada di pantat; kalau Yesus Tuhan, siapa bidannya; dan Jenderal otak Hansip”. Khusus yang disebut terakhir, coba  kalau dia bilang: “Jenderal otak udang”, paling yang tersinggung hanya Jenderal, sedangkan udang tidak mungkin ikut marah.

Mungkin kita perlu mengingat lagi nasehat orang tua zaman dulu: ” Lida tak bertulang, jangan sampai mulutmu jadi harimaumu, lalu menerkam lehermu sendiri!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>