Terpleset Plesetan

Habib Rizieq - Arrahmah.com

Habib Rizieq – Arrahmah

Awalnya saya menduga Ustadz  Habib Muhammad Rizieq Shibab silaf ketika memelesetkan ucapan “sampurasun”, salam bahasa Sunda menjadi “campur racun”. Tapi setelah menyaksikan ekspresi wajah tokoh Front Pembela Islam (FPI) tersebut ketika meneriakkan “campur racun” yang disiarkan detik.com, saya yakin itu memang sengaja. Terlihat dia menyimak ucapan sampurasun dari jamaah, mengulang ucapan itu satu kali,  lalu berteriak kencang “campur racun!”

Penegasan upacan itu bukan karena hilaf, terlihat dari pernyataan Abdul Qohar, Ketua FPI Jawa Barat: “FPI tak akan mundur juga minta maaf. Apa yang disampaikan soal sampurasun itu sepenuhnya adalah jala dakwah”.

Sulit memahami maksud  sang Habib  karena tidak utuh menyaksikan ceramah pendiri FPI tersebut. Namun berdasarkan hasil  baca sana sini, saya menduga ustadz Rizieq sedang melampiaskan marah kepada Bupati Purwakarta, Dedi Maryadi yang dianggap telah melakukan tindakan menyimpang dari agama. Misalnya mendirikan patung tokoh pewayangan yang bagi FPI dianggap berhala. Juga adanya gosip, Dedi Maryadi menikah dengan Nyi Roro Kidul, lelembut Ratu penguasa Laut Selatan. Bahkan Bupati Purwakarta itu telah membuat kereta kencana untuk Sang Ratu yang ditempatkan di Gedung Negara alias Bale Nagri.
 
Namun apapun alasannya,  memelesetkan “sampurasun” menjadi  “campur racun” pasti menuai persoalan.  Ucapan “Sampurasun” bukan hanya milik  Dedi Mulyadi,  tapi milik semua warga berbahasa Sunda. Kata salam tersebut biasanya diucapkan penuh hikmat oleh para tokoh dan generasi tua suku Sunda.  Di beberapa kabupaten Jawa Barat, termasuk Purwakarta, “sampurasun” selalu diucapkan pada setiap acara resmi — biasanya setelah “Assalamu’alaikum”.  Ucapan salam “urang Sunda” tersebut setara dengan ucapan “Tabik Pun”  yang  wajib diucapkan oleh Orang Lampung pada setiap acara resmi di Propinsi Lampung.
Kang Emil -tribunnews

Kang Emil -tribunnews 

Wajar jika  Aliansi Masyarakat Sunda jadi meradang dan menganggap ucapan Ustadz Habib Rizieq sebagai pelecehan terhadap budaya Sunda. Mereka yang terdiri dari Angkatan Muda Siliwangi, Sundawani Wirabuana, GMBI Jabar, Damas, Bamus Jabar, Forum Ki Sunda, Paguron Mande Muda Pusat, Padepokan Kibun Sunda, Berantas Jabar Banten, Ki Buyut Sunda Wiwitan, Padepokan Mandala, Padepokan Jogo Jemur, Pitaloka Purwakarta, Jangkar, Jaga Lembur dan Lemuria Spritual Sentra menuntut Rizieq meminta maaf atas ucapannya itu.
 
Belum ada tanda Rizieq dan Front Pembela Islam akan memenuhi tuntutan Aliansi Masyarakat Sunda tersebut, meski  banyak tokoh Sunda, termasuk  Kamil Ridwan (Kang Emil), Walikota Bandung dan Acil Bimbo telah mengimbau agar Habib minta maaf.  Namun yang pasti, Angkatan Muda Siliwangi telah mengadukan kasus pelecehan tersebut ke Polda Jawa Barat.
Jika kasus ini tidak bisa diselesaikan secara musyawarah seperti yang dianjurkan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, maka bukan tak mungkin sang Habib akan terjerat kasus hukum. Akankah Habib Rizieq terpleset akibat plesetan?!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>