Banggar di Papua

Dalam rangka memperbaiki citra Banggar yang sedang terpuruk, beberapa anggota Banggar mengusulkan agar mengunjungi daerah  calon penerima anggaran. Daerah pertama yang akan dikunjungi adalah Papua.

Arje (anggota Banggar gadungan hehee) Hotel Tirta Mandala Jayapura

Semua anggota Banggar setuju dengan usulan tersebut, maka Ketua Banggar meminta Sekjen DPR mempersiapkan kunjungan, antara lain memilih hotel  tempat menginap.

Staf sekjen tidak pergi ke Papua. Dia hanya mengandalkan informasi melalui telepon dari seorang tokoh LSM Papua. Berdasarkan informasi itu, dia merekomendasikan menginap di sebuah hotel di Daerah Dok II, Jayapura. Alasannya, hotel tersebut paling kondusif karena  di sana telah terpajang foto semua anggota DPR.

Mendengar rekomendasi tersebut, seorang Staf Ahli anggota DPR asal Papua heran. Diam-diam dia terbang ke Papua dan menginap di hotel yang direkomendasikan. Di sana dia tidak menemukan foto anggota DPR, namun secara menyolok di sana dipajang  foto-foto hewan  yang biasa dipelihara masyarakat Papua. (arje’2012)

Sobat Banggar, Jujurlah!

DompuSi Alon Tambolon, mantan Anggota Banggar benar-benar lagi bete. Sudah setahun tinggal sendiri karena ditinggal istri yang selingkuh dengan sopirnya, sedangkan kedua anaknya selalu tidak pernah di rumah. Malam-malam  dia duduk sendirian di sofa, menyetel teve keras-keras sambil minum Vodka.  Setelah menghabiskan tiga botol, matanya mulai berkunang-kunang karena mabok berat.

Di televisi, seorang anggota Banggar DPR RI (mantan teman Si Alon) sedang berbicara: “Kami di Banggar itu benar-benar bekerja untuk negara. Hanya berfikir untuk menyelamatkan uang negara. Kalaupun ada anggota Banggar yang dituduh korupsi atau diisyukan sering selingkuh, itu baru dugaan. Kalaupun memang ada, itu hanya oknum. Mungkin karena dia sedang hilaf!”

Si Alon Tambolon bangki dari sofa, badannya sempoyongan tapi matanya tetap ke teve. Dia tetap  menyimak  temannya yang begitu bersemangat berbicara seolah tak pernah bersalah. Tiba-tiba Alon berteriak: “Kawan, mumpung anak-anak dan istriku sedang gak ada, bicaralah yang jujur!” (arje’2012)