SBY itu Jenius, Licin, atau Beruntung?

SBY – Boediono (Indonesia Satu)

Tiga sebab seorang bisa menjadi pemimpin dalam dunia politik: jenius, licin, dan atau beruntung. Karena kejeniusannya seorang mampu menyerap aspirasi rakyat dan mewujudkan aspirasi itu dalam program yang mensejahterahkan rakyat.  Rakyat jadi senang, lalu dengan sukacita mengangkatnya sebagai pemimpin.

Karena licin seorang juga bisa jadi pemimpin. Dengan kelicinannya, dia bermanuver bagai belut di belantara tipu daya dunia politik. Bahkan sering dialah menjadi  aktor utama dari tipu daya tersebut, misalnya dengan memanipulasi situasi untuk keuntungan kekuasaan. Orang yang licin biasanya akan mempertahankan kekuasaan dengan segala cara, tak peduli dengan cara mengelabui akal sehat.

Namun ada juga orang yang menjadi pemimpin karena beruntung. Biasanya pemimpin seperti ini kurang memiliki kecakapan sebagai pemimpin karena secara tidak sengaja terlempar menjadi pemimpin. Orang ini menjadi pemimpin secara kebetulan. Misalnya sebagai anak seorang pemimpin, lalu didaulat menjadi pemimpin.  Ada juga yang beruntung karena terseret arus popularitas orang lain, misalnya mereka yang beruntung bisa menjadi anggota DPR tahun 1999 karena popularitas Megawati Soekarno Putri dan mereka yang di 2009 bisa menjadi anggota DPR hanya karena popularitas Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Lalu bagaimana dengan SBY?

Secara jujur sulit untuk mengatakan SBY termasuk pemimpin yang jenius. Soalnya tidak ada  prestasi membanggakan yang

Pusing -kabar.net

mampu dilakukan SBY untuk kemajuan Indonesia.  Selama satu dasawarsa pemerintahannya, hutang luar negeri membengkak luar biasa hingga Rp 2.000 triliun (view), jumlah penduduk miskin menurut versi BPS masih mencapai 29 juta (view), dan korupsi makin meraja lela, termasuk dilakukan oleh orang-orang hasil binaan SBY. Bahkan Ketua Umum, Bendahara Umum, Wakil Sekretaris Jenderal, dan Sekretaris Dewan Pembina Partai Demokrat,  masuk sebagai pesakitan KPK.

Menurut saya, SBY itu sama seperti Mega, termasuk pemimpin yang licin dan beruntung.  Kalau Mega  dengan kelicinannya berhasil memanfaatkan isu “peristiwa berdarah 27 Juli 1996″,  yaitu penyerangan Kantor Pusat PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, untuk melambungkan namanya. Sedangkan SBY secara licin memainkan “isu teraniaya oleh  Mega”, yaitu dipecat dari Kabinet Mega, untuk mendongkrak popularitasnya.

Mega “beruntung” bisa menjadi Presiden karena ada nafsu birahi para elit politik yang dimotori Amien Rais (didukung TNI dan Polri) untuk  menumbangkan Gus Dur. Sedangkan SBY, terutama  di  periode kedua ini, “beruntung” karena ketika Pemilu dilaksanakan, masyarakat belum mengetahui adanya kasus Bank Century  yang merugikan negara Rp 6,7 triliun, yang diduga melibatkan Wakil Presiden Boediono.

Menarik bagi saya, kondisi SBY sekarang sama dengan Mega ketika menjadi Presiden. Kedua pemimpin ini didukung oleh anggota DPR yang paling banyak terpilih karena keberuntungan. Dukungan mereka ini terkadang membabi buta, sehingga bukannya simpati yang didapat, malah sering menuai anti pati. Sepak terjang politisi Partai SBY (Partai Demokrat) saat ini benar-benar setali tiga uang dengan Partai Mega (PDIP) tahun 1999.  Bongsor, tapi penyakitan!  Kondisinya sangat rapuh, sehingga gampang menjadi bulan-bulanan partai lain, terutama oleh Partai Golkar.

Sekarang di tengah berbagai gempuran yang melanda kekuasaannya, masih mampukah SBY memainkan kelicinan untuk mempertahankan keberuntungan? Di tengah popularitas yang makin melorot, masih mampukah dia mempertahankan keberuntungannya, selamat mengakhiri masa jabatan tanpa rintangan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>