Pornografi di Dunia Maya

Seorang  teman bertanya: “Mungkinkah menghindari pornografi di dunia maya?” Saya jawab: “Tidak!” Saya perlu menjawab tegas  karena  teman tersebut sedang galau. Anak laki-lakinya  yang  kelas satu  SMP minta disediakan internet. Dia ingin mengabulkan permintaan itu  agar anaknya cepat pintar, tapi khawatir akan memudahkan anaknya mengakses  pornografi di dunia maya.

pornografi – rimanews

Sebagai  perpustakaan raksasa (giant library),  internet menyediakan semua  informasi yang diinginkan.  Maka wajar kalau banyak orang beranggapan, pengakses internet  bisa cepat pintar. Namun  internet  menyediakan informasi positif dan juga negatif.  Bahkan tidak jarang, situs yang menyediakan informasi positif sekaligus memuat hal-hal negatif.

Contohnya  tentang konten porno alias mesum, fakta dari berbagai sumber menunjukkan:  1) lebih dari 24,5 juta situs menyediakan konten porno, 2) pertumbuhan situs porno setahun lebih satu juta, 3) sekitar  satu juta situs mesum tersebut berasal dari Indonesia, 4)  sekitar 2,5 miliar email tiap hari berisi konten pornografi, dan 5) situs-porno memiliki porsi 30% dalam lalu lintas data internet di seluruh dunia.

Sebagai perpustakaan maya, akses ke informasi di internet hanya menggunakan kata kunci (key word) melalui mesin pencari (search engine), sehingga tidak jarang   kata kunci  tersebut  justru mengarah  ke situs  penyedia konten porno. Makanya, 34% pengguna internet secara tidak sengaja membuka gambar atau adegan mesum dari iklan pop-up dan link yang mengarah ke situs porno.

Namun sebanyak apapun konten porno tidak akan jadi masalah kalau tidak ada yang tertarik membukanya. Nyatanya: 1) dari semua pengguna internet yang mendownload, 35% mengunduh konten porno, 2) Indonesia selalu berada di peringkat lima besar pengakses situs porno, 3) rata-rata pengakses situs mesum pertama kalinya di usia  11 tahun, dan 4) sekitar 97,2% siswa pernah mengakses situs porno alias mesum.

Dengan demikian,  sulit bagi siapapun menghindar  dari terpaan pornografi  dunia maya.  Paling bisa dilakukan adalah mengurangi ekses negatif  dan mencegah agar anak tidak menjadi konsumer aktif situs porno. (arje dari berbagai sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>