Plesetan Singkatan

Penggunaan singkatan di Indonesia sudah jadi budaya. Bahkan Indonesia pernah memiliki Presiden (Soekarno) yang sangat pandai  menciptakan  singkatan. Contoh beberapa singkatan sangat terkenal:  berdikari (berdiri di atas kaki sendiri), manipol (manifestasi politik), nekolim (neo kolonialisme), nasakom (nasionalis, agama, dan komunis), dan banyak lagi. Konon nama anak pertamanya,  GUNTUR,  singkatan dari ‘Gunakan Tenagamu Untuk Rakyat’.

Pelajar   kita pun tak lah  mahir membuat singkatan. Bisa dilihat dari kreativitas mereka membuat singkatan nama sekolah maupun tempat nongkrong. Contohnya: SMU Sesat (Sejahterah Satu),  SMU Maut (Manggarai Utara), SMU Kasar (Kartika Sari), Stadela (Stasiun Depok Lama), Amigos (agak minggir got sedikit), Pijay (Slipi Jaya), dan sebagainya.

Kelemahan Singkatan

arje3

Arje = Abdurrahman Jelek

Penggunaan singkatan terutama agar mudah mengingat nama atau istilah yang terlalu panjang, misalnya:  Soesilo Bambang Yudhoyono disingkat SBY, Partai Damai Sejahterah (PDS), Golongan Karya (Golkar), Abdurrahman Jemat (Arje),  Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHP), dan sebagainya.

Kelemahannya, tidak ada hak cipta dan hak paten tentang singkatan, sehingga bisa digunakan siapa saja dan untuk keperluan apa saja. Contohnya TPI,  bisa untuk: Televisi Pendidikan Indonesia,  Team Pembela Islam, atau Tempat Pelelangan Ikan.   PIN, bisa:  Pusat Informasi Nasional atau Pekan Imunisasi Nasional. Juga ARB, bisa Aburizal Bakrie, tapi bisa Anak Rawa Buaya.

Singkatan juga  sangat rawan diplesetkan. Contoh: UUD (Ujung-Ujungnya Duit), KUHP (Kasih Uang Habis Perkara), IAIN (Ingkar Allah Ingkar Nabi), UPH (Universitas Pengeruk Harta atau Uang Papa Habis),  UMB (Universitas Mangga Besar), STIA (Sekolah Tidak Ijazah Ada), IKJ (Institut Kelainan Jiwa), Arje (Abdurrahman Jelek), ponsel (telepon selingkuh).

Begitu juga WTS (Wartawan Tanpa Suratkabar atau Wanita Thamrin Sudirman), PKK (Perempuan Kurang Kerjaan),  IWAPI (Ikatan Wanita Penggoda Iman), PSK (Pedagang Sate Kiloan), BNN (Bandar Narkoba Nasional),  dan sebagainya.

PKS

Singkatan paling banyak diplesetan masyarakat adalah PKS (seharusnya Partai Keadilan Sejahterah), terutama  setelah Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaac ditahan KPK karena terlibat kasus suap impor daging sapi. Plesetan tersebut  tambah marak setelah Anis Matta dan petinggi PKS lainya  menuduh ada konspirasi besar melibatkan Zionis ingin menghancurkan PKS.

Berbagai plesetan tersebut ditulis melalui spanduk, komentar pada berita media,  dan melalui akun jejaring sosial. Contoh plesetan PKS, antara lain:  Partai Korupsi Sapi, Partai Kaum Serakah, Pingsan Keseruduk Sapi,  Partai Korup Sekali, Parte Kok Sapi, Puyeng Ketendang Sapi. Bahkan ada yang memplesetkan ke arah tidak senonoh (tentu tidak pantas ditulis di sini).

Saking banyak dan liarnya plesetan mengenai PKS, maka Ketua DPP PKS, Sohibul Iman secara khusus menghimbau masyarakat agar jangan mengolok-olok nama PKS.

Berdasarkan pengalaman PKS tersebut sebaiknya berhati-hati menggunakan singkatan dan perlu pertimbangan matang membuat pernyataan. Di Indonesia, nama orang pun bisa diplesetkan sebagai singkatan. Contohnya, Harmoko (hari-hari omong kosong), Habibi (habis bicara bingung).

3 thoughts on “Plesetan Singkatan

  1. Bagus….bagus pak, lanjut terus tulisannya, meski tetap sibuk dgn kerja baru jadi MC (Momong Cucu) menulis jalan terussssss

  2. Sejak dilaksanakan Sidang Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) “mengadili” Setya Novanto, Ketua DPR RI atas pengaduan Menteri ESDM, Sudirman Said, awal Desember 2015, beredar berbagai plesetan singkatan tentang MKD, antara lain: Membela Kelakuan Dewan, Malunya Kok Di sini, Mahkamah Konco Dewe, Masa Kawan Disidang? Makin Kiamat DPR, Mau Komisi Dong, Mau Kelonan Dulu, Masukangin Kebanyakan Duit, Masa Kakak Diadili? Mahkamah Kayak Dagelan, Marah Karena Direkam.

    Plesetan tersebut muncul setelah melihat kelakuan tiga anggota MKD yang baru ditunjuk oleh Partai Golkar: Ridwan Bae, Kahar Muzakir, dan Adies Kadir. Tiga serangkai ini berusaha bermanuver ingin membatalkan sidang karena menganggap perbuatan Machroef Sjamsudin, Presdir PT Freeport Indonesia merekam pembicaraan antara Setya Novanto, Reza Chalid, dan Machroef Sjamsudin merupakan perbuatan ilegal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>