Filosofi perkawinan Jawa

 

Banyaknya kasus perceraian, terutama di lingkungan artis menimbulkan pertanyaan: mengapa begitu gampang orang bercerai? Mengapa sebuah mahligai rumah tangga begitu rapuh?  Padahal kalau melihat riwayat perkawinan mereka, banyak rumah tangga yang bercerai itu, dibangun dengan pesta miliaran rupiah. Mereka merayakan pesta adat meriah di gedung megah, bahkan ada yang akad nikahnya di hadapan Ka’bah, disaksikan dan didoakan oleh Kyai ternama.

Memang menjalani kehidupan rumah tangga tidak gampang, karena tidak ada sekolah yang mengajarkan tentang hal itu. Sayangnya jarang ada yang menyadari hal itu, sehingga jarang yang melakukan persiapan “khusus” memasuki perkawinan. Lihat saja, banyak calon penganten hanya sibuk konsultasi mengenai bentuk pesta dan soal pakaian saat pesta. Jarang ada yang melakukan konsultasi tentang seluk beluk perkawinan yang harus mereka jalani kelak.

Drs. H. Hari Sutopo, Ketua Paguyuban Pametri Budaya Jawi, pernah memberi “petuah” kepada penulis, bahwa sebenarnya tidak akan mudah (terutama bagi orang suku Jawa) menghancurkan bahtera rumah tangganya, kalau dia mengerti makna perkawinan. Makna tersebut sudah tergambar dalam asesoris dan urutan prosesi perkawinan yang dijalaninya.

Misalnya mengapa perkawinan harus pakai janur, kok tidak pakai plastik saja? Sering karena tidak mengerti, orang mengambil artinya dari sudut bahasa, “ja Annur”, sinar surga. Padahal janur itu bukan tuntunan agama Islam. Janur itu  diambil dari pucuk pohon kelapa. Nah, kelapa itu dari bahasa Sansakerta, kelape adalah suatu titik tertinggi yang mengomandoi sejumlah titik di bawahnya. Itu adalah perwujudan daripada Tuhan. Jadi maksud orang tua memasang janur itu untuk mengingatkan kepada anaknya, agar senantiasa mengingat Tuhan.

Kenapa kok memasang tebu? Orang tidak mengerti akan mengartikannya sebagai “anteping kalbu”, berat hatiya, yaitu bekerja keras. Memang bekerja keras itu bagus. Tapi kalau dia bekerja terus menerus? Ini menyebabkan banyak anak pejabat bubrah. Saking getol bapaknya bekerja sampai anaknya lepas kendali. Jadi bukan itu maksud dari pemasangan tebu tersebut.

Tebu untuk manten itu adalah tebu item, namanya tebu Arjuna. Sesungguhnya dalam tebu itu ada kembang yang namanya gelagah. Bentuk gelagah ini sama dengan panahnya Arjuna, pemberian Batara Indra. Sifat Arjuna yang bernama panah pasopati ini hanya diperuntukkan bagi tujuan baik. Misalnya hanya untuk perang demi bangsa dan negara. Panah ini bisa berubah jadi panah api. Jadi pada waktu nikah itu, orang tua memasang tebu untuk memberi pusaka kepada sang anak, yaitu lembaga perkawinan. Kalau anak itu menghayati masalah itu, maka angel (susah) orang cerai.

Kenapa pemasangan kelapa gading, bukan kelapa ijo atau kelapa hibrida? Banyak orang tidak tahu, sehingga mengartikannya dari bahasa Jawa: kelapa gading = cengkir yang diartikan kencang fikir. Nah, kalau kencangnya fikir kerjanya main saja bagaimana? Sebenarnya arti kelapa gading itu diambil dari arti gadingnya. Kalau kita melihat gajah besar tidak ada gadingnya rasanya bingung. Mau dikatakan sebagai anak gajah, dia sudah besar, tapi mau disebut gajah kok tidak ada gadingnya. Artinya, orang tua memasang kelapa gading untuk mengingatkan kepada anak, “kamu itu saya lahirkan yang kedua. Kamu sudah pantas disebut sebagai manusia. Lepas dari ikatan saya tapi asal usulmu dari anak”.

Kenapa sekarang salon sudah maju, tapi perempuan nikah tetap dikasih item dan konde. Sesungguhnya, sang wanita dibentuk sebagai matahari. Si cunduk mentul itu solarnya, sinarnya, auranya. Pada detik manten laki nginjak telor, sang matahari ini turun ke bawah, manten perempuan membersihkan kaki manten laki dan sungkem. Pada detik inilah nilai tertinggi seorang laki-laki. Sebab matahari yang telat semenit saja kita sudah kacau, sekarang mau turun.

Nah, kalau pengertian ini diberikan kepada pasangan penganten sebelum menikah, insha Allah langgeng. Sedangkan pisang raja, artinya doa biar tinggi derajatnya; padi, biar makmur hidupnya; alang-alang, biar dijauhi dari halangan.

Semoga tulisan ini  menambah rekat benang cinta perkawinan Anda. (abdurrahman)

Comments are closed.