Wong Palembang

Wong Palembang

Orang Palembang atau Wong Palembang itu unik, maka agar tak “salah persepsi” tentang mereka,  perlu bagi pembaca  memahami  masyarakat  Bumi Sriwijaya tersebut.  Utamanya  agar tidak terjadi miskomunikasi dan misinterpretasi  bila berkomunikasi  dengan mereka. Tapi karena tulisan ini disajikan Wong Palembang, maka tak usah terlalu serius membacanya.

Pertama, orang Palembang sering mengekspresikan dirinya sebagai orang paling kuat di dunia  (lebih kuat daripada Limbad he3x), karena paku dan keris sering dibikin sebagai sayuran. “Paku”, bahasa Palembang, berarti pakis dan “keris” adalah jagung muda (putik jagung). Bagi orang Palembang, jangankan paku dan keris, kapal selam juga jadi sarapan. “Kapal selam”, saya yakin semua sudah tahu, yaitu mpek-mpek yang isinya telur.

Makanan Palembang

Mpek-mpek dan Brugo

Kedua, orang Palembang tidak takut dengan binatang dan apapun yang galak, bahkan sangat senang dengan cewek/cowok galak. Maka siapapun yang galak datanglah ke Palembang, pasti akan disambut dengan suka-cita…. Galak, berarti mau, suka, atau doyan. Maka kalau di sana, sahabat akan sering ditanya, “galak dak….?” Sebaliknya, orang Palembang sangat benci pada orang yang berbudi  (di Palembang dibaca bebudi.). Di sana, bebudi artinya menipu. Inilah mengapa semboyan “SBY Berbudi” terpaksa diganti menjadi “SBY Budiono” (mungkin takut orang Palembang tahu kalau “SBY Berbudi” alias SBY berbohong heeee…).

Ketiga, di Palembang tidak mungkin ada kasus perbudakan, karena bagi orang Palembang budak itu sangat disayang. “Budak”, artinya anak kecil. Siapa sih yang tidak sayang pada anak kecil? Maka di Palembang tidak mungkin ada “budak nafsu”, karena  budak pasti belum ada nafsu he….

Keempat, kalau ke Palembang, walau kesal hindari mengucap kata ngacok. Orang Palembang sangat jengah dan tabu mendengar kata itu. “Ngacok”, bahasa Palembang berarti senggama. Maka kalau ada orang mengucapkan “ngacok umakmu”, pasti ujungnya berkelahi, bahkan tak jarang berakhir dengan pembunuhan.

Kelima, kalau mencari kenderaan umum, tidak usah ragu “naik taksi”. Ongkos taksi di sana sama dengan ongkos angkot, karena orang Palembang sering menamai angkot itu dengan “taksi”. Misalnya, naik taksi dari Ampera ke Tanggo Buntung, artinya naik angkot dari Jembatan Ampera menuju Terminal Tangga Buntung. Namun jangan heran kalau sopirnya bilang mau mencari pesisir. Si sopir bukan sedang mencari pantai, karena “pesisir” artinya penumpang.

Semoga tulisan ini dapat membantu wisatawan menikmati  bumi “wong kito”. Juga bisa santai  menikmati berbagai penganan khas Palembang, seperti: sambal tampoyak, pindang Meranjat, pepes lais, tekwan, lakso, burgo, dan aneka mpek-mpek — mpek-mpek dos, lenjer, tunuh, jangat, lenggang, dan kapal selam!

One thought on “Wong Palembang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>