Merumuskan Pertanyaan Wawancara

wawancara-kompas-tv

wawancara-kompas-tv

Sebagaimana dikemukakan Stewart L. Tubbs dan Sylvia Mess (1996), seorang pewawancara yang baik haruslah dapat membimbing arah percakapan melalui serangkaian pertanyaan. Dengan demikian, faktor pertanyaan menjadi bagian paling penting dari suatu kegiatan wawancara  (View), sehingga pertanyaan harus dirancang sedemikian rupa agar mampu menjaring informasi yang diinginkan. 

Dalam merumuskan pertanyaan sebaiknya memperhatikan nasehat Herbert Strenz, bahwa dalam wawancara bukanlah terletak pada pertanyaan dan bagaimana pertanyaan itu diajukan, tapi apakah dengan cara itu Anda bisa mendapatkan informasi yang bernilai untuk khalayak Anda. Maka dalam merumuskan pertanyaan perlu memperhatikan hal sebagai berikut:

  1. Kenali dan pahami subjek sebaik mungkin dan pelajari objek secermat mungkin
  2. Susunlah pertanyaan sebanyak mungkin lalu urutkan mulai dari yang paling penting
  3. Baca sekali lagi rumusan pertanyaan Anda satu persatu lalu perbaiki susunan kata yang masih belum sempurna
  4. Susunan pertanyaan hendaklah dalam bentuk kalimat pendek danto the point. Misalnya: menurut Anda, apakah kasus suap melibatkan Rio Capella dapat merusak kredibilitas Partai Nasdem? Bukan: Apakah kasus penyelewengan bantuan sosial di Sumatera Utara yang melibatkan Rio Capelle akan berdampak pada Partai Golkar?
  5. Hindari pertanyaan hipotetis, misalnya: Jika klien Anda ternyata benar terlibat dalam perampokan ini, apakah Anda akan juga menuntut klien Anda tersebut? Sebaiknya: Apa yang akan Anda lakukan jika ternyata klien Anda terlibat perampokan itu?
  6. Hindari pertanyaan argumentatif, misalnya: Saya pikir pendapat Anda sangat bertentangan dengan fakta yang ditemukan Polisi, apakah mungkin ada sesuatu yang Anda sembunyikan dari publik? Sebaiknya: Bagaimana pendapat Anda tentang fakta yang ditemukan polisi ……?

Sebelum  pertanyaan tersebut diajukan perlu juga memperhatikan pendapat Herbert Strenz, yaitu: 1) dengan bertanya Anda menunjukkan siapa diri Anda, sehingga bisa  menimbulkan kesan bahwa Anda adalah: si Bodoh, si Pengganggu, si Pendengat Buruk, atau si Cerdas, 2) dengan bertanya mungkin  tak sengaja merusak hubungan dengan dia, apalagi jika pertanyaan Anda membuat dia terpojok dan serba salah.

Bentuk Pertanyaan

Pertama, pertanyaan tertutup, yaitu pertanyaan yang mengarahkan responden terhadap jawaban yang telah disediakan, misalnya; “Apakah Anda setuju dengan  tindakan Menteri ESDM, Sudirman Said melaporkan Setya Novanto ke MKD?” Pertanyaan tersebut bisa juga dirancang dalam bentuk menggiring, misalnya:

  1. Setujukah Anda terhadap hukuman mati terhadap bandar narkoba?
  2. Apakah Anda juga setuju dengan pendapat teman-teman Anda di DPR, bahwa Setya Novanto harus mundur dari Ketua DPR?
  3. Kapan terakhir Anda mengunjungi tempat perjudian di Kelapa Gading?
  4. Sependapatkah Anda dengan pendapat yang mengatakan bahwa tindakan Polisi mengusut kasus Abraham Samad merupakan tindakan berlebihan?
  5. Adakah keinginan Anda untuk berhenti dari pekerjaan seperti ini? (misalnya sebagai psk alias wts)
  6. Biasanya pada kondisi bagaimana Anda tidak bisa meninggalkan rokok?
  7. Percayakah Anda dengan pernyataan tersangka bahwa dia tidak berada di lokasi saat peristiwa perampokan?

Kedua, pertanyaan terbuka, yaitu pertanyaan yang memungkinkan responden untuk menyusun rumusan jawaban sendiri, misalnya: “Bagaimana pendapat Anda tentang …….?” Pertanyaan ini bisa dimulai dengan pertanyaan primer, misalnya: “Kapan Anda mengenai Gayus Tambunan?”,  lalu dilanjutkan dengan pertanyaan menyelidik, misalnya: “Seberapa dekat hubungan Anda dengan Gayus? Bagaimana Anda bisa selalu bersama Gayus ketika dia keluar penjara? Menurut Anda, bagaimana  Gayus bisa begitu leluasa keluar penjara?”

Pertanyaan terbuka bisa juga dirumuskan sebagai pertanyaan netral ,misalnya:

  1. Bagaimana sikap Anda terhadap tuduhan makar yang ditujukan kepada Anda?
  2. Ceritakan bagaimana pengalaman Anda bergaul di tengah masyarakat Badui?
  3. Mengapa Anda tidak terlihat berada di antara anggota serikat pekerja ketika mereka menuntut kenaikan upah?
  4. Bagaimana tanggapan Anda terhadap keputusan hakim yang menolak praperadilan OC Kaligis?
  5. Apa dasar pertimbangan dari partai Anda berubah menjadi pendukung pemerintah?
  6. Mengapa Anda menolak ajakan kolega Anda untuk mendirikan perusahaan garmen di Indonesia?

Bentuk pertanyaan yang tidak dianjurkan adalah pertanyaan yang membebani (loaded quention), yaitu pertanyaan yang sudah direkayasa dan telah mengisyaratkan jawaban, misalnya:  1) Bukankah Anda telah sering menjelaskan bahwa Anda akan melakukan hal ini tapi sampai saat ini belum pernah dilaksanakan? 2) Mengapa Anda bisa bebas sedangkan semua anggota organisasi Anda berstatus tersangka?

Sumber bacaan:

  1. Saelan, Ahmad,Reporting dan Teknik Wawancara, Majalah Pers Indonesia No. 18 tahun ke V, April 1975.
  2. Stenz, Herbert,Reporter dan Sumber Berita, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1993
  3. Tubbs, Stewart L., dan Mess, Silvia,Human Communication: Konteks-konteks Komunikasi, terj. Deddy Mulyana, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1998

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>