Menulis Singkat dan Padat

Karya Jurnalistik selalu dimuat dalam media massa  yang memiliki ruang/waktu terbatas. Maka semua karya IMG_2536jurnalistik harus ditulis secara singkat dan padat. Tujuannya agar bisa menyampaikan semua informasi yang dibutuhkan masyarakat dalam ruang/waktu yang tersedia.

Singkat, yaitu sedapat mungkin menulis kata, kalimat, maupun alinea secara singkat. Sedangkan padat artinya tidak menggunakan kata yang tidak perlu, apalagi mubazir. Penulisan singkat dan padat disebut  “menerapkan prinsip hemat kata”, yaitu  menyampaikan informasi selengkapnya menggunakan sedikit mungkin kata.

Enam cara berhemat kata

 Berdasarkan pengalaman dan pengamatan penulis,  ada enam cara berhemat kata. Penghematan tersebut bisa dilakukan pada unsur kata maupun kalimat, sebagai  berikut:

Pertama,  menghemat hurup  namun  tidak mengorbankan tatabahasa, misalnya:  kata  ‘tidak’ ditulis ‘tak’; ‘sehingga’ ditulis ‘hingga’; ‘apabila’  ditulis ‘bila’;    ‘meskipun’ ditulis ‘meski’);  ‘walaupun’ jadi ‘walau’,  ‘ akan tetapi’ jadi ‘tapi’.

Kedua,  mengubah kata dengan sinonim atau padanan kata lebih singkat, misalnya kata:  ‘terkejut’ diganti ‘kaget’;  ‘demikian’ diganti ‘begitu’; ‘sekarang’ diganti ‘kini’;  ‘kemudian’ diganti ‘lalu’;  ‘semakin’ diganti ‘kian’;  ‘sangat’  diganti ‘amat’; ‘harapan’ diganti ‘asa’; ‘tersebut’ diganti ‘itu’ .

Ketiga, membuang kata tidak perlu atau mubazir, yaitu:

  • Kata ‘adalah’ sebagai terjemahan tobe. Contoh “Saya adalah seorang dosen bahasa Jurnalistik di Universitas Esa Unggul”,  cukup ditulis  “Saya dosen bahasa Jurnalistik di Universitas Esa Unggul”.
  • Kata ‘telah, sedang, akan’  yang sudah jelas keterangan waktunya.  Contoh: 1) Presiden SBY telah bertemu PM Singapura kemarin, 2) Sekarang polisi sedang memburu para pelaku perampokan di Bekasi minggu lalu, 3)  Sidang lanjutan akan dilaksanakan minggu depan. Kata ‘telah’, ‘sedang’, dan ‘akan’ pada tiga kalimat tersebut mubazir karena sudah jelas keterangan waktunya.
  • Penjamakan kata tidak perlu, misalnya:  ‘agar supaya’; ‘sekarang kini’;  ‘contoh misalnya’  (kadang malah ada yang menambahkan ‘umpama seperti’).   Cukup gunakan salah satunya saja, misalnya ‘agar’ atau ‘supaya’, bukan ‘agar supaya’.
  • Penjamakan kata berlebihan, misalnya: para hadirin (kata ‘hadirin’ sudah cukup);  semua pejabat-pejabat (cukup tulis ‘semua pejabat’); banyak gedung-gedung (cukup tulis ‘banyak gedung’)
  • Penjamakan kata yang sudah bermakna jamak, misalnya: ‘keterangan-keterangan’;    ‘penjelasan-penjelasan’; ‘kesimpulan-kesimpulan’; ‘uraian-uraian’; ‘fakta-fakta’; ‘data-data’. Kata-kata tersebut tidak perlu dijamakkan lagi,  karena sudah bermakna jamak. Misalnya kata ‘fakta’ sudah menunjukkan banyak fakta sehingga tidak perlu ditulis ‘fakta-fakta’.
  • Kata  ‘dari’ sebagai terjemahan kata ‘of’  dan kata ‘untuk’ sebagai terjemahan kata ‘to’.  Contohnya: 1) Sesuai isi pidato dari Presiden; Berdasarkan keterangan dari Menparbud, dan 2) Saya diminta untuk datang ke Polda Jaya besok pagi. Kata ‘dari’ dan ‘untuk’pada kalimat terubut mubazir.
  • Kata bahwa  sebagai terjemahan that, misalnya:  ‘Jokowi  mengatakan bahwa Pemda DKI Jakarta serius menangani masalah banjir di ibukota’.  Kata ‘bahwa’  bisa diganti koma,  ‘Jokowi mengatakanPemda DKI Jakarta serius  menangani masalah banjir di ibukota’.

Keempat, membuang kata  namun tidak mengurangi makna kalimat, contohnya kata yang ditandai warna merah dalam naskah berikut:

 Seorang pria tanpa identitas ditemukan tewas di pinggir kali, di daerah Desa Mandiangin, Kecamatan Rawas Ilir, Musi Rawas, Propinsi Sumatera Selatan,  hari Minggu dini hari.  Mayat pria tersebut ditemukan dua orang pencari ikan yang bermaksud  memasang pancing di lokasi kejadian.

 Kelima, mengubah susunan dua kata atau lebih  dengan satu kata yang sama artinya. Misalnya:  Dewan Kehormatan DPR akan memberikan hukuman terhadap anggota dewan yang tidak hadir dalam sidang paripurna kemarin.  Kata ‘memberikan hukuman terhadap’ diganti dengan ‘menghukum’ dan ‘tidak hadir’ diganti ‘absen’, maka kalimatnya menjadi “Dewan Kehormatan DPR akan menghukum anggota dewan yang absen dalam sidang paripurna kemarin

Contoh lain,  susunan kata ‘mengadakan pertemuan dengan Presiden’ diganti ‘bertemu Presiden’;  ‘melakukan penandatangan naskah’ diganti ‘menandatangani naskah’; melakukan perubahan terhadap peraturandiganti ‘mengubah peraturan’; ‘tidak memperbolehkan mengikuti’  diganti ‘melarang mengikuti’; ‘melakukan perbaikan terhadap tangguldiganti ‘memperbaiki tanggul’; ‘memberikan penjelasan kepada publik’ diganti ‘menjelaskan kepada publik’. 

 Keenam, mengubah susunan dua kata atau lebih  dengan satu kata yang sama maknanya. Misalnya:  PKB, PPP, dan PKS tetap tidak menyetujui   keputusan pemerintah yang akan menaikkan harga BBM. Kata ‘tidak menyetujui’ diganti ‘menentang’; Hamas menyatakan tidak akan hadir dalam pertemuan perdamaian dengan Israel di Mesir minggu depan. Susunan kata ‘menyatakan tidak akan hadir dalam’  bisa diganti ‘memboikot’.

Semoga bermanfaat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>