Menulis itu Gampang?

Lebih seperempat abad lalu (1987), Kolomnis dan Budayawan ternama, Aswendo Atmowiloto menulis buku  “Mengarang itu Gampang”. Buku terbitan Gramedia ini sangat laris, sehingga harus cetak ulang lebih dari 10 kali. Namun sampai saat ini banyak orang masih kesulitan mengungkapkan fikiran dan perasaannya melalui tulisan.  Bahkan masih banyak yang sulit menulis sesuatu yang biasa  dia ceritakan secara lisan.

Di dunia jurnalistik juga sama.  Lebih 30 tahun lalu ,  Wartawan Senior, Rosihan Anwar mengungkapkan kegusarannya terhadap kerancuan bahasa pers (lihat: Anwar, Bahasa Jurnalistik Indonesia dan Komposisi). Namun sampai saat ini  masih banyak berita pers yang tidak akurat (view).

Lalu  apakah benar  menulis itu gampang?  Jawabnya bisa iya bisa juga tidak. Bagi mereka yang biasa menulis, terutama bagi penulis terkenal seperti Gonawan Mohamad, Mohamad Sobary, Emha Ainun Nadjib, dan banyak lagi, termasuk Aswendo sendiri,  menulis itu sangat gampang.  Tapi bagi kebanyakan orang,  terutama bagi para pemula, menulis  bukan pekerjaan mudah.

Menguasai dua hal

Untuk menjadi penulis harus menguasi dua hal:  1) menguasai materi (subject matter) yang akan ditulis, dan 2) menguasai cara penyajian tulisan.

Pertama, seorang tidak mungkin bisa menulis sesuatu yang tidak dia ketahui. Misalnya tidak mungkin mampu menceritakan peristiwa yang tidak pernah disaksikan atau tidak pernah didengar ceritanya dari orang lain. Juga tidak mungkin bisa menulis tentang suatu hal,  bila tidak pernah membaca tentang persoalan itu. Bahkan tidak mungkin bisa menulis cerita fiksi tentang percintaan, bila tidak mampu membayangkan kisah cinta yang akan diceritakan.

Penguasaan terhadap materi  bisa dilakukan dengan berbagai cara, bisa dengan menyaksikan peristiwa (terutama untuk penulisan berita di media massa), meninjau langsung lokasi dan situasi  yang akan diekspos (lihat contoh), bertanya kepada sumber relevan (view contoh), atau membaca berbagai literatur yang berhubungan dengan persoalan ttersebut (lihat contoh).

Kedua, meski menguasai persoalan, jika tidak  menguasai cara penyajian tulisan, tetap saja tidak mungkin bisa menulis.   Jadi meski  seseorang memiliki  pengetahuan dan pengalaman bejibun,  belum tentu  mampu menceritakan pengetahuan dan pengalamannya itu  secara tertulis.

Kemampuan menulis tidak sama dengan kemampuan berbicara,  sehingga  orang  mampu  berbicara dengan baik belum tentu bisa menulis dengan baik.  Banyak pejabat , terutama di daerah, hanya mampu berbicara di muka umum, tapi kesulitan berkomunikasi melalui  tulisan. Pernah ada anekdot tentang pejabat daerah:  dalam suatu acara,  banyak pejabat  memberi  sambutan dan  semua pidatonya bagus. Ternyata semua naskah pidato itu  ditulis oleh seorang penulis (script writer).  Maka tidak heran,  jika banyak pejabat dan pengusaha  bersedia membayar  penulis  hanya agar dapat menceritakan  biografinya kepada masyarakat (kebetulan saya juga penulis biografi, antara lain:  biografi  mantan Gubernur Bengkulu, Hasan Zen;  mantan    Bupati Madiun,  Djunaedi  Mahendra;  dan mantan Bupati Sarmi, Eduar Fonataba).

Bagaimana agar bisa menulis?

Menulis itu bisa dipelajari, yaitu bisa belajar sendiri dan bisa juga dengan berguru kepada orang lain.  Tapi cara paling cepat  agar bisa menulis adalah dengan  menulis, menulis, dan menulis.  Makin sering menulis, kian terbiasa  mengungkapkan fikiran dan perasaan melalui tulisan, maka  makin banyak kesempatan  memperbaiki mutu tulisan.

Bagi siapa pun yang mau menulis, terutama di media massa massa,  pertama harus mempelajari  bahasa yang biasa digunakan media (view).  Juga sama dengan bicara, menulis adalah  usaha  merangkai kata . Maka  hati-hatilah menggunakan kata, karena jika salah memilih kata,  bisa jadi tulisannya tidak efektif mencapai tujuan  (view).

Selain bahasa, jika ingin menulis  karya jurnalistik  (tulisan yang berdasarkan fakta),  harus juga mempelajari struktur tulisan.  Menulis berita akan berbeda dengan menulis feature, beda juga dengan menulis editorial,  artikel, dan pojok.  Menulis berita lempang (straight news) akan berbeda dengan menulis   laporan mendalam (depth reporting), juga berbeda dengan laporan investigasi (investigative reporting).

Pada tulisan mendatang akan saya paparkan bagaimana menulis setiap karya jurnalistik tersebut  disertai contoh relevan (terutama dari hasil karya saya sendiri).  Insya Allah!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>