Mengapa Orang Palembang?

Baru mau menyeruput tekwan di depan Stasiun Tangerang dapat pertanyaan mengagetkan. “Bapak orang Palembang kan? Bagaimana pendapat Bapak tentang anak muda asal Palembang yang nekad melukai polisi Tangerang?” tanya Bapak di sebelah yang sedang memesan mpek-mpek.

Kaget karena baru tahu kalau anak muda yang terbunuh karena menyerang polisi itu orang Palembang. Juga kaget tak menyangka dapat pertanyaan tiba-tiba seperti itu. Saya menjawaab normatif saja: “Ya kita gak tahu pengaruh dari mana? Meski katanya yang bersangkutan jarang bergaul di lingkungannya, bisa saja dia mendapat pengaruh melalui internet dari Syiria”.

Raut wajah Bapak itu menunjukkan dia tidak puas dengan jawaban tersebut.  Saya yakin dalam  hati dia mau bertanya: “Kenapa orang kampung Lho bisa nekad dan kejam seperrti itu?”

arje

arje

Sambil menyendok habis tekwan saya menjawab dalam  hati. “Kenekatan dan kebrutalan gak ada hubungan dengan  asal daerah. Meski  orang  Palembang sering bilang  “galak”, tapi  bukan berarti  gampang emosional. Meski  mereka sering nekat minum “cuka”, tapi tak pernah membuat  jadi beringas. Meski orang Palembang  hobi makan “paku”, tak membuat kami ingin melukai orang. Meski mereka  biasa mengunyah “kapal selam”, tak menjadi indikasi akan kejam terhadap orang. Bahkan meski orang Palembang umumnya senang “model” panas, tapi tak berarti mereka suka pornografi.

(Catatan:  galak, bahasa Palembang berarti suka;  cuka = kuah mpek-mpek; paku = pakis; kapal selam = mpek-mpek telor;   model = mpek-mpek berkuah sop; tekwan = hampir sama dengan model tapi  bentuknya kecil)

One thought on “Mengapa Orang Palembang?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>