Watak di Balik Topi Polisi

Berbicara tentang dunia kepolisian mengingatkan saya pada hasil bincang-bincang dengan Jenderal Polisi (Pur) Chaeruddin Ismail, satu setengah dasawarsa silam. Mantan Pejabat Kapolri era Presiden  Gus Dur itu mengungkapkan, setiap polisi harus memiliki tiga watak berbeda, namun masing-masing watak harus diperankan sesuai tugas di lapangan.

Mengatur Ketertiban (kabar24.com)

PERTAMA:  ketika mengatur ketertiban, polisi akan berhadapan dengan rakyat. Dia  harus menyadari, rakyat yang dihadapi pada umumnya orang baik, tapi hanya karena keadaan, mereka menjadi tidak sabaran.

Misalnya sudah tahu jalannya sempit, tapi tetap ingin cepat dan tidak mau mengantri. Kalau berjualan maunya di trotoar bahkan di badan  jalan, meski tahu jalan menjadi semraut.  Maka polisi yang bertugas mengatur ketertiban harus mampu menampilkan watak  humanis. Dia harus mampu melakukan pendekatan dengan rakyat sesuai budaya mereka.

Menindak Kejahatan (koranjakarta.com)

KEDUA:  ketika menangani kejahatan, polisi harus siap berhadapan dengan penjahat. Penjahat itu, kalau lebih tinggi namanya Bajingan. Lebih tinggi lagi, namanya Setan. Paling tinggi adalah Iblis. Para penjahat  ini terkadang berpenampilan baik, berpendidikan tinggi, memiliki banyak uang, dan punya kedekatan dengan kekuasaan. Mereka mampu melakukan tipu daya kelas tinggi dan menimbulkan dampak tak terkirakan.

Polisi yang menangani penjahat harus mempunyai watak yang bisa memainkan tipuan alias mampu menjalankan  siasat seperti penjahat. Prinsipnya, kalau tidak bisa menipu, maka dialah yang akan ditipu!  Maka polisi harus mampu melakukan tipu daya agar bisa menangkap penjahat, minimal mencegah mereka berbuat jahat.

Menindak Pembangkang (solopos.com)

KETIGA;  ketika menindak pembangkang, polisi  berhadapan dengan mereka yang berpotensi mencelakakan masyarakat, bahkan  mampu  dan tega menghilangkan nyawa orang. Maka dalam menghadapi pembangkang, polisi boleh menggunakan senjata, bahkan boleh menembak mati. Prinsipnya, demi menghidari terbunuh maka boleh melakukan pembunuhan. Namun penggunaan senjata tidak boleh semena-mena, harus bisa dipertanggungjawabkan.

Salah peran (bisnis-kti)

Repotnya ketiga watak itu terdapat dalam satu kepala, sehingga tidak heran jika sering terjadi  salah peran  dan menimbulkan persoalan. Misalnya polisi yang seharusnya menggunakan tipu daya untuk memberantas  kejahatan,  justru menggunakan tipu daya untuk melakukan kejahatan. Polisi yang biasa berhadapan dengan pembangkang,  justru menerapkannya untuk menangani pelanggar ketertiban.

Paling fatal jika polisi salah mengidentifikasi mana penjahat, pelanggar ketertiban, dan pembangkang. Bisa jadi, pelanggar lalu lintas diperlakukan seperti penjahat atau pembangkang. Seperti pada gambar di atas, pengendara motor yang tidak memakai helm dihentikan dengan cara ditendang. Pernah juga terjadi, masyarakat yang berjudi kecil-kecilan ditembak seperti pembangkang. Dor!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>