Memahami Proses Terjadi Berita

Setiap waktu masyarakat diterpa bermacam berita dari berbagai media massa cetak, elektronik, dan online, bahkan melalui akun jejaring sosial dan BlackBerry Mesenger.  Banyak berita tersebut yang berguna karena informasinya sangat dibutuhkan, namun tidak sedikit berita itu hanya layak menjadi sampah karena tidak akurat dan bahkan menyesatkan.

Tulisan ini memberi gambaran tentang proses terjadinya berita agar masyarakat bisa jelas  menilai berita yang disiarkan oleh media massa.

Alur Berita

Berita adalah laporan tentang fakta peristiwa/pendapat yang disiarkan melalui media massa. Dengan demikian  berita  bermula dengan adanya fakta peristiwa dan atau pendapat manusia. Fakta tersebut diliput oleh wartawan dan dilaporkan melalui media massa.  Secara sederhana alur berita (flow of news) dapat digambarkan sebagai berikut:

Flow of News

 

Reporter/koresponden mendapat bahan berita dari sumber berita. Berdasarkan bahan berita itu mereka menulis naskah berita. Lalu naskah berita tersebut diserahkan kepada Redaksi  untuk diedit/disunting menjadi copy berita.  Bagi pengelola media cetak, copy berita ini kemudian dicetak menjadi berita. Sedangkan bagi media elektronik (radio/televisi) dan media online, copy berita langsung disiarkan menjadi berita.

Proses terjadinya Berita

Tidak semua fakta peristiwa maupun pendapat manusia dimuat/disiarkan menjadi berita,  karena tidak semua fakta layak dijadikan berita (view). Juga hanya fakta yang dipilih redaksi  yang bisa menjadi berita, sehingga suatu fakta hanya mungkin menjadi berita, jika: 1)  diketahui dan diliput oleh wartawan (reporter/koresponden/kontributor)  serta 2) dipilih oleh redaksi untuk disiarkan menjadi berita media massa.

Wartawan itu juga manusia, sehingga pelaksanaan tugasnya bisa saja dipengaruhi oleh kecenderunganya sebagai manusia, yaitu:1) ingin menonjolkan diri, 2) ingin menghindari resiko, dan 3) ingin mendapatkan keuntungan.  Ketika meliput dan menulis berita bisa saja wartawan dipengaruhi oleh salah satu dari kecenderungan tersebut. Makanya sampai saat ini kita masih menemukan adanya berita yang tidak sesuai fakta, bahkan tidak berdasarkan fakta sama sekali.

Pertama, kecenderungan menonjolkan diri misalnya, mendorong wartawan membuat fakta yang biasa saja dibesar-besarkan (blow up) menjadi berita luar biasa. Kedua, kecenderungan menghindari resiko mendorong wartawan  mengabaikan fakta penting yang merugikan atau membahayakan dirinya.  Ketiga, kecenderungan mengambil keuntungan mendorong wartawan hanya menulis berita yang  menguntungkan saja, misalnya berita yang mungkin mendatangkan iklan dan atau memungkinkan dia dibayar.

Mengenai kecenderungan kedua dan ketiga ini ada pameo di lingkungan wartawan, yaitu “berita tidak cukup hanya memenuhi  5W + 1H  (what, who, where, when, why, how), tapi harus memenuhi unsur S (securiry) dan  M (money)”.

Secara umum proses terjadi berita sebagai berikut:  1) adanya fakta peristiwa/pendapat yang diketahui dan diliput oleh reporter/koresponden/kontributor, 2) hasil liputan tersebut dijadikan bahan berita (tidak disimpan atau diabaikan), 3) berdasarkan bahan berita  itu, reporter/koresponden/kontrobutor menulis naskah berita, lalu disampaikan ke redaksi, 4) redaksi memutuskan untuk mengabaikan naskah tersebut atau mengeditnya menjadi copy berita, dan 5) redaksi memutuskan agar copy berita tersebut disiarkan menjadi berita.

Gambaran tentang proses terjadinya berita dapat dilihat pada bagan berikut:

Proses terjadinya Berita

 Dari bagan di atas dapat dilihat, bahwa terjadinya berita melalui proses yang panjang.   Suatu fakta (peristiwa/pendapat) bisa saja tidak pernah menjadi berita karena tidak diketahui oleh wartawan. Maka tidak heran kalau ada peristiwa, terutama peristiwa kejahatan, baru diketahui  jauh setelah kejadian.  Juga fakta apapun tidak mungkin jadi berita jika diabaikan oleh wartawan. Pengabaian ini bisa jadi karena alasan tidak memiliki nilai berita, tapi bisa juga karena alasan lain, misalnya akan merugikan/membahayakan diri dan atau perusahaan tempat dia bekerja.

Banyaknya bagian fakta yang diabaikan wartawan akan membuat  fakta yang diberitakan tidak utuh lagi.  Apalagi kalau yang diabaikan itu merupakan fakta penting yang dibutuhkan khalayak, maka beritanya akan tidak ada guna bagi khalayak. Berkurangnya fakta ini dalam dunia jurnalistik dikenal dengan istilah erosi fakta.

Berita tidak sesuai fakta bukan hanya karena pengurangan fakta, tapi bisa juga karena penambahan fakta. Kalau penambahan fakta untuk memperjelas fakta, tentu tidak ada masalah. Tapi sering juga wartawan memasukkan opininya, sehingga kadang tidak jelas lagi mana fakta dan mana opini wartawan.  Kadang wartawan sengaja mendramatisir fakta agar lebih menarik.  Dalam dunia jurnalistik, penambahan fakta seperti ini disebut distorsi fakta.

2 thoughts on “Memahami Proses Terjadi Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>