Humas Harus Menulis

Andrie SubonoKetika memberi kuliah Public Relations (PR) Writing, seorang mahasiswa bertanya: “Mengapa orang Humas perlu belajar menulis? Mengapa pula harus mempelajari tentang berita?”  Terus terang saya kaget mendengar pertanyaan tersebut. Bagi saya, pertanyaan seperti itu sangat aneh datang dari seorang mahasiswa komunikasi, calon sarjana Humas.

Kejadian itu mendorong saya melakukan riset kecil-kecilan. Ternyata telah terjadi salah paham di kalangan sebagian mahasiswa Humas. Mereka menganggap, pekerjaan menulis hanya untuk  Jurnalis/Wartawan,  sedangkan Humas hanya bicara tanpa menulis. Sebagian mereka memilih jurusan Humas  karena merasa tidak memiliki bakat menulis.  Padahal  menulis itu gampang, asalkan mau belajar dan melatih diri dalam menulis.

Jurnalistik dan Humas

Pada prinsipnya tugas Jurnalis dan Humas  sama-sama menyampaikan pesan kepada publik atau khalayak. Bedanya terletak pada tujuan penyampaian pesan tersebut.  Jurnalis menyampaikan pesan untuk kepentingan khalayak, sedangkan Humas untuk kepentingan pencitraan. Perbedaan tujuan tersebut tercermin dalam pemilihan materi pesan, yaitu:

  1. Jurnalis memilih materi pesan apa saja  yang menarik dan penting bagi khalayak, sedangkan Humas hanya memfokuskan materi pesan yang ada hubungan dengan perusahaan/pihak yang diwakili oleh Humas.
  2.  Bagi jurnalis,  bad news terkadang bisa menjadi good news, sedangkan Humas menghindari menyampaikan informasi yang berdampak buruk bagi perusahaan.

Mengapa Humas harus menulis?

Tugas Humas menjaga hubungan baik dengan publik internal maupun publik eksternal. Hubungan tersebut  berlangsung terus menerus secara dinamis, sehingga tidak mungkin bisa dijalin hanya dengan komunikasi lisan, apalagi hanya mengandalkan komunikasi tatap muka atau  face to face communication. Maka perlu bagi Humas bisa menulis, karena:

  1. Hubungan dengan publik internal kadang harus dijalin melalui media kehumasan, misalnya: newsletter, inhouse magazine, maupun website perusahaan.   Penting bagi Humas  menguasai cara penyajian semua bentuk tulisan untuk media internal. Minimal menguasi cara penulisan berita (khususnya berita lempang)  dan feature (terutama feature profil, human interest, dan how to do it).
  2. Hubungan dengan publik eksternal harus dilakukan melalui media massa yang dikelola oleh jurnalis, sehingga pesan (tulisan) yang disampaikan harus mengikuti kaidah penulisan jurnalistik. Misalnya, ketika Humas menyampaikan press release (siaran pers), harus ditulis dalam bentuk berita sebagaimana berita yang ditulis oleh wartawan. Press release yang tidak layak berita hanya akan ditempatkan di kotak sampah.
  3. Humas juga harus mampu menulis Advertorial (singkatan dari Advertensi dan Editorial), yaitu iklan terselubung yang dikemas dalam bentuk karya jurnalistik. Bisa  dalam bentuk berita, feature, artikel, atau kolom agar terlihat layaknya sebuah karya jurnalistik, bukan iklan. Untuk itu, Humas harus pula mampu mengemas tulisan yang memenuhi syarat seperti karya jurnalistik.
  4. Saat perusahaan menjadi pusat pemberitaan, Humas akan menjadi sumber yang dicari banyak wartawan. Dalam situasi seperti itu, akan sangat riskan kalau hanya mengandalkan komunikasi lisan. Biasanya kasus salah kutip maupun  salah tafsir oleh wartawan terjadi karena penyampaian informasi secara lisan.  Maka memberi keterangan tertulis akan lebih baik,  karena informasinya akan diterima  sama oleh  semua wartawan.  Juga  Humas akan memiliki alat kontrol jika ada salah kutip oleh wartawan.

 Humas harus menulis Berita

Pada sesi pembelajaran tentang berita,  biasanya akan dijelaskan tentang:  apa itu berita, bagaimana proses terjadi berita, bagaimana proses pencarian berita, dan bagaimana cara penulisan berita.  Materi tersebut sangat berguna bagi tugas Humas, sebagai berikut:

  1.  Humas sering menyelenggarakan kegiatan mengundang wartawan dan berharap agar mereka memberitakannya, misalnya: konferensi pers, pameran, seminar, open house, kegiatan amal, dan sebagainya.  Dengan memahami tentang bagaimana fakta layak berita  serta proses terjadi berita, petugas Humas bisa merancang kegiatan yang layak diberitakan wartawan.
  2. Humas sering menulis press release (siaran pers)  yang dikirim ke berbagai media dan berharap agar mereka memuatnya. Dengan menguasai cara penulisan berita,  Humas bisa menulis press release dalam bentuk berita yang siap dicetak/disiarkan oleh media.
  3. Humas sering diserahi tugas mengelola media perusahaan, maka dengan memahami tentang berita, tidak mungkin ada kesulitan bagi Humas dalam mengelola media tersebut.  Apalagi kalau dia juga pernah mempelajari teknik pencarian berita, termasuk teknik wawancara.
  4. Humas kadang tergoda juga beralih profesi jadi Jurnalis, maka dengan memahami  A sampai Z  tentang berita, dia tidak akan mengalami hambatan menajalani profesi baru sebagai jurnalis.

Moga tulisan ini bisa melengkapi penjelasan lisan saya di kelas PR Writing.

2 thoughts on “Humas Harus Menulis

  1. Mahasiswa humas yang lihat sm dengarnya bukan TV berita harus dipertanyakan ya pak? jangan-jangan salah ambil jurusan. Apalagi malas menulis, mending pindah universitas ya,ke UPH aja(Universitas Putus Harapan)abis baca Singkatan Rawan Plesetan sih hehehehe…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>