Hati-hati Gunakan Kata

Ketika saya bertanya kepada mahasiswa,”Kapan anda/kamu nikah?”  biasanya mereka langsung jawab, “Belum siap, Pak!”  atau “Nanti, nunggu lulus, Pak!” Tapi ketika saya  tanyakan, “Kapan kamu/anda kawin?” mereka tersenyum, hanya  tersipu dan tidak mau menjawab. Ternyata ada yang salah dengan penggunaan kata ‘kawin’ tersebut.

Meskipun  ‘kawin’ itu berarti ‘nikah’ dan ‘nikah berarti ‘kawin’,  namun  antara ‘nikah’ dan ‘kawin’ mengandung makna berbeda.  Nikah hanya memiliki makna denotatif, yaitu melaksanakan ikatan perkawinan, sedangkan ‘kawin’, di samping memiliki arti yang sama dengan ‘nikah, juga mengandung makna konotatif, yaitu melakukan hubungan seks  (dengan atau tanpa ikatan perkawinan). Maka tidak heran kalau sering kita mendengar gurauan, ‘kawin sih sudah, tapi nikahnya belum’.

Sebenarnya ‘pemelesetan’ makna kata ‘kawin’ tersebut agak aneh, karena  kata “nikah” itu berasal dari bahasa Arab, sedangkan kata ‘kawin’,  satu-satunya kata paling pas sebagai padanan kata ‘nikah’  dalam bahasa Indonesia.  Lagipula secara hukum kita hanya mengenal Undang-Undang Perkawinan, bukan Undang-Undang Pernikahan.

Kasus di atas merupakan contoh agar  kita hati-hati dalam memilih kata, apalagi bila ingin menyampaikan pesan melalui media massa.  Bisa jadi, karena salah memilih kata, pesan yang disampaikan akan dimaknai berbeda oleh khalayak.  Apalagi kita tahu, khalayak media massa sangat banyak dan beragam, sehingga bisa jadi suatu kata yang bermakna ‘baik’ di suatu daerah tapi bermakna ‘buruk’ di daerah lain. Kata yang biasa digunakan di kalangan tertentu tapi tabu diucapkan di kalangan lainnya.

Dalam menulis tentang kematian akibat tindak kekerasan,  kita bisa menggunakan kata: meninggal, tewas, terbunuh, gugur, dan wafat. Tapi,  menggunakan kata ‘gugur’ untuk menulis tentang penjahat, apalagi teroris, kita akan dianggap bagian dari komplotan penjahat tersebut. Juga jika kita menggunakan kata ‘tewas’  untuk menulis tentang tentara yang ditembak penjahat,  mungkin akan dianggap tidak berempati pada tentara yang gugur membela negara.

Begitu pula dalam menulis tentang tentara yang sedang berperang, kita bisa memilih kata: tentara, pasukan, pejuang, dan  serdadu.  Kata ‘serdadu’ hanya pantas digunakan untuk musuh atau pihak yang dianggap musuh, misalnya: “Serdadu Israel membombardir sekolah di Gaza” atau  “Tujuh serdadu Amerika terbunuh di Afganistan”. Namun untuk pihak yang kita bela, biasanya kita menggunakan kata “pejuang”, misalnya: “Pejuang Pelestina terus berupaya menahan gempuran serdadu Israel”. Khusus untuk tentara nasional Indonesia, biasanya kita gunakan kata ‘pasukan’, misalnya “Satu kompi pasukan TNI dikirim ke Pulau Moro, Filipina Selatan”.

Makna lintas budaya

 Selain harus hati-hati dalam menggunakan kata yang bermakna konotatif, kita juga harus hati-hati dalam menggunakan kata yang  tabu. Contohnya,  ketika seorang  artis perempuan menyebut kata “ngacok lho”  kepada pasangannya (laki-laki),  maka seluruh orang Palembang  akan terperanjat, karena kata ‘ngacok’  di Palembang berarti “menyetubui”.  Hal yang sama terjadi ketika pejabat berpidato menyebutkan kata “momok masyarakat”,  pasti orang Sunda akan terheran-heran, karena kata “momok” dalam bahasa Sunda berarti “kelamin perempuan”.

Jika kita berada di Riau atau di daerah-daerah yang menggunakan bahasa Melayu, janganlah sekali-kali mengungkapkan  “saya membutuhkan sesuatu”.  Lebih baik bilang saja “saya memerlukan sesuatu”, karena kata “butuh” di sana berarti “kemaluan laki-laki”.  Juga sekedar intemezo, bagi Anda yang biasa menggunakan kata “meg”  untuk menggambarkan ketakjuban, bisa saja Anda menyebut  kata “seru meg!” atau “hebat meg!”, tapi jangan sebutkan “rame meg”, meskipun menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “memek” berarti “merengek-rengek”.

5 thoughts on “Hati-hati Gunakan Kata

  1. Saya setuju banget Pak, berbagi pengalaman karena saya pernah merantau di Batam kepulauan riau, yaitu kata “LONTONG” di Batam yang berarti Pelacur, jadi bagi kita yang belum pernah tahu penggunaan kata ini, ketika kita ditawari makan oleh salah satu penduduk di Batam, hati-hati menggunakan kata ” Saya Mau Lontong “. Maka bisa dibayangkan reaksi Penduduk disana. :) Intinya Hati-Hati Gunakan Kata dalam Makna Lintas Budaya. Sukses Terus Pak Arje, Semoga tulisan Bapak menjadi inspirasi bagi banyak orang.

  2. Pingback: Tersandung Hukum Karena Kata | Arje - Abdurrahman Jemat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>