Haram menurut Islam

Masalah halal haram merupakan ketentuan paling penting dalam ajaran Islam. Mengabaikan ketentuan tentang apa yang diharamkan bisa menyebabkan ibadah menjadi sia-sia. Maka tidak heran jika kalangan sufi lebih sering berpuasa untuk “menutup 99 pintu halal hanya untuk menghindari satu pintu haram”. 

Dalam buku-buku tentang Islam dijelaskan, masalah haram termasuk ketentuan tentang larangan. Misalnya dalam buku Riadhus Shalihin terjemahan Ustadz Alhafid Masrap Suhaimi, kita menemukan bab khusus yang membahas tentang hal-hal yang dilarang. Juga dalam tulisan Yusuf Qardhawi (view), banyak sekali dibahas tentang apa saja yang dilarang.

Kalau diperhatikan, Islam tidak pernah mengharamkan benda, apalagi benda/mahluk ciptaan Tuhan, karena “Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu yang sia-sia”. Kalau pun ada larangan menyangkut benda, yang dilarang adalah membuat atau mengunakan benda itu, misalnya dilarang membuat patung dan menggunakan patung untuk disembah.

Jadi larangan dalam Islam hanya berlaku untuk “perbuatan” yang tidak sesuai  syariat Islam. Misalnya, Islam  secara tegas melarang memakan babi dan menggunakan babi (termasuk bahan yang terbuat dari babi) untuk pakaian dan obat-obatan. Namun Islam tidak pernah mengharamkan ciptaan Tuhan bernama babi. Bahkan babi boleh dimakan saat dalam keterpaksaan. Juga Islam tidak pernah melarang manusia melindungi habitat babi dari kepunahan.

Islam juga secara tegas melarang penyalahgunaan narkoba, tapi tidak mengharamkan narkobanya. Penggunaan narkoba (contohnya obat bius) untuk menyelamatkan jiwa manusia (misalnya dokter ahli) tentu tidak haram. Pokoknya Islam itu hanya mengharamkan perbuatan yang tidak sesuai tuntunan Islam.

Maka saya agak heran kalau belakangan berkembang wacana di kalangan tertentu, bahwa rokok haram, televisi haram, bahkan ada yang bilang internet haram. Menurut saya, bukan rokok yang haram, tapi yang haram adalah mengisap rokok sehingga mencelakakan diri sendiri dan orang lain. Juga bukan televisi yang haram, tapi yang haram adalah penyalahgunaan televisi untuk menampilkan perbuatan haram serta menonton perbuatan haram.

Begitu juga dengan internet, kalaupun mau diharamkan bukanlah internetnya, tapi penggunaan internet untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan tuntunan Islam. Misalnya, sibuk dengan internet sehingga melalaikan shalat, mempromosikan pelacuran, melakukan perselingkuhan, dan perbuatan negatif lainnya. Tapi bagi g menggunakan internet untuk hal-hal yang positif, misalnya mempererat silaturrahim, mencari nafkah keluarga, bahkan untuk berdakwa, tentu tidak haram.

Mungkin sebelum menjatuhkan vonis haram terhadap sesuatu, perlu juga membaca riwayat yang disampaikan oleh Ibnu Muflih dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Bahwa ulama-ulama salaf dulu tidak mau mengatakan haram, kecuali setelah diketahuinya dengan pasti” (Yusuf Qhardawi).

One thought on “Haram menurut Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>