Generasi Instan

arje-monas

 

Apakah Anda tak sabar ketika menunggu antrian? Apakah Anda selalu membunyikan klakson saat jalanan macet? Apakah Anda mengurus SIM melalui calo?  Kalau tiga pertanyaan tersebut dijawab ‘iya’, maka  pasti Anda termasuk generasi instan. Suatu generasi yang tidak ingin berkeringat dalam menggapai apa yang diharapkan.

Tidak ada hasil penelitian, kapan mulai adanya generasi instan. Tapi bisa dipastikan, generasi ini muncul sejak orang lebih menghargai hasil dibanding proses.  Orang lebih menghargai gelar, jabatan basah, dan kekayaan, tanpa peduli bagaimana memperoleh semua itu. Akibatnya, jual beli gelar marak dimana-mana, sogok-menyogok  jabatan terjadi di tiap instansi, serta korupsi meraja lela tak terkendali.

Mengenai adanya jual beli gelar, saya memiliki cerita agak valid. Ketika pergi ke Papua untuk menulis biografi Bupati Sarmi, Eduar Fonataba, saya bertemu dengan seorang Kepala Distrik (Camat) yang bergelar Doktor. Ketika saya tanya  lulusan mana? Dia bilang tanpa melalui kuliah sebagaimana biasanya, tapi mengikuti wisuda di hotel bintang lima di Jakarta.  Saya juga kenal seorang yang mengelola perguruan tinggi (franchise) yang bisa memastikan,  kuliah 2,5 tahun bisa punya gelar sarjana dan kuliah satu tahun lagi bisa menyandang gelar magister.

Soal sogok menyogok untuk memperoleh jabatan bukanlah rahasia lagi di negeri ini. Istilahnya, tidak mungkin jabatan bisa diraih tanpa disesajeni. Kita juga mengenal adanya istilah ‘money politik’  untuk jabatan di partai dan organisasi.

Apalagi  bicara tentang korupsi, Negara harus membentuk badan adhoc  bernama Komisi Pemberantasan  Korupsi.  Saya sendiri memiliki pengetahuan tentang  adanya beberapa kegiatan korupsi.  Misalnya sekarang saya tahu  ada satu perusahaan, namanya IM,  tidak jelas aset dan manajemennya, tapi bisa memenangkan tender di PHE ONWJ dengan nilai proyek di atas Rp 100 miliar.  Informasi ini sudah saya laporkan kepada Vice President Investigasi Pertamina, sehingga sekarang dalam pengusutan oleh  pihak Pertamina Pusat.

Penganut paham generasi instan terdapat di semua lini.  Di masyarakat awam, kita sering mendengar adanya orang bersedia  menjadi budak setan demi bisa mendapatkan uang.   Juga adanya sejumlah perempuan yang ingin mendapatkan uang dengan bersedia menjual badan.   Generasi instan seperti ini akan terus berkembang  selama masyarakat lebih menghargai materi dibandingkan harga diri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>