Instrospeksi Gaya Hidup

Sebelum tahun 1980-an, ada pepatah yang  diajarkan di semua sekolah dasar, yaitu: “Berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian — Bersakit-sakit dahulu, bersenang kemudian”. Semua anak sekolahan pasti hafal pepatah tersebut, bisa mengingat dan menjelaskan artinya. 

Anyer 2011 merenungPepatah tersebut telah menjadi filsafat hidup banyak orang, bahwa dalam menjalani hidup perlu: kerja keras, kejujuran, dan kesabaran. Untuk mencapai hasil  perlu mengikuti proses yang terkadang melelahkan.

Kita diajarkan agar tidak berfikir jangka pendek,   karena yang dituju adalah  “happy ending”. Tujuan   itu hanya bisa dicapai melalui usaha yang baik dan halal.  Maka orang tua, ustadz, dan guru selalu mengingatkan agar tidak melakukan sesuatu yang menyebabkan kita gagal memperoleh  “happy ending” paling sempurna, yaitu syurga.

Setelah era 1990-an, saya tidak pernah mendengar pepatah tersebut diajarkan. Belakangan malah terdengar, pepatah itu  sudah diplesetkan oleh grup musik terkenal SLANK menjadi: “Berakit-rakit ke hulu berenang ke tepian. Bersakit dahulu, lalu mati kemudian!” Artinya, kalau memilih hidup bersakit dahulu akan mati kemudian. Populernya lagu tersebut bersamaan dengan populernya  semboyan di lingkungan anak muda:  “Muda foya-foya, tua kaya raya, dan mati masuk syurga”.

Sejak saat itu, mulailah kekayaan menjadi tolak ukur keberhasilan. Seorang akan disebut berhasil bila dia jadi orang kaya,  tak peduli diperoleh dengan cara bagaimana. Gelar berderet dan pangkat tinggi tidak dinyatakan berhasil, sebelum  mampu menunjukkan mobil dan rumah mewah miliknya.

Maka sejak era 1990-an, banyak orang mulai berprinsip: “Nikmati dan lakukan apa saja selagi bisa, mumpung ada kesempatan di depan mata”. Soal moral, hukum, apalagi pandangan tetangga, bukan urusan kita. Pokoknya yang penting  berusahalah agar bisa kaya di dunia —  jangan fikirkan apa yang terjadi setelahnya, apalagi  soal syurga dan neraka.

Sekarang, setelah menyaksikan kejadian demi kejadian tragis  akibat gaya hidup “yang penting kaya”,  agaknya perlu mengevaluasi prinsip hidup kita? Mari  berkaca pada kejadian yang menimpa mantan Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah; mantan Gubernur Riau, Rusli Zainal; mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Akil Muchtar; mantan Ketua DPP Partai Demokrat, Anas Urbaningrum; mantan Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaaq  yang terpaksa meringkuk di balik terali penjara akibat gaya hidup mewah yang diperoleh dengan cara tidak semestinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>