Wisuda & Resepsi Pernikahan

Sebenarnya tidak ada hubungan antara wisuda dengan resepsi pernikahan. Kalaupun ada, karena wisuda sering dijadikan alasan mahasiswa menunda pernikahan. Lalu setelah wisuda, mereka mulai serius merencanakan  jenjang pernikahan. Esensinya, wisuda sama saja dengan resepsi pernikahan, hanya acara serimonial untuk mengumumkan … Continue reading

Manusia Diumpama Hewan

kompasiana

This gallery contains 1 photo.

Ketika Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bilang “lebaran kuda”, istilah tersebut langsung viral di media sosial. Tak jelas apa yang dimaksud SBY, namun banyak yang menduga penggunaan kata “kuda” berhubungan dengan peristiwa sehari sebelumnya, Presiden Jokowi menunggang kuda bersama … Continue reading

Musuh Dunia Maya

arje

love.arje

Tahu akun facebook saya diretas, seorang teman langsung tanya: “Apakah Abang ada musuh?” Saya jawab spontan: “Musuh pasti ada, tapi tidak tahu siapa?”. Jawaban ini membuat dia penasaran, “Siapa kira-kira?”  Saya bilang: “Penjahat dunia maya!” Continue reading

Ijazah Palsu

Menteri Ristek & Dikti, M. Nasir  mengungkapkan, pemegang ijazah palsu bisa diancam hukuman 10 tahun penjara  dan denda Rp 1 Miliar. Ancaman tersebut sangat berat, bahkan lebih berat dibanding hukuman untuk pengedar narkoba.

Menurut saya, hukuman berat bagi pemegang ijazah palsu pantas jika motif mereka memang untuk menipu orang lain, apalagi untuk menipu negara. Misalnya, bagi yang menggunakan gelar untuk menjadi pegawai, sebagai syarat kenaikan jabatan, atau agar bisa diakui sebagai  staf ahli pada sebuah proyek pemerintah. Continue reading

Mencegah KKN di Perguruan Tinggi

Sejak bergulir era reformasi, pemberantasan KKN (Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme) di  Indonesia  menjadi prioritas utama bagi pemerintah dan masyarakat. Siapapun yang terpilih menjadi penguasa, pasti akan memprioritaskan persoalan ini, setidaknya dalam retorika mereka.

Lahirnya program pemberantasan KKN secara nasional  tidak lepas dari jasa kalangan perguruan tinggi (PT), khususnya mahasiswa. Mereka yang di penghujung era Orde Baru mempopulerkan tuntutan “hapuskan KKN”, baik  melalui poster, spanduk, media massa, maupun melalui teriakan di kampus, di  jalanan, bahkan di Gedung DPR/MPR RI.

Pertanyaannya,  apakah program tersebut  juga menjadi prioritas kalangan perguruan tinggi? Seharusnya perguruan tinggi tidak hanya bisa berteriak untuk orang lain, tapi juga memberi teladan. Continue reading

Menjaga Citra Tentara

Belum hilang dalam ingatan, ketika anggota TNI AU Riau begitu beringas memukul fotografer Riau Pos, pertengahan Oktober 2012, sekarang kasus serupa terjadi di Ambon. Beberapa anggota Detasemen Kavaleri Kodam 16 Pattimura menganiaya wartawan Koran Harian Info Baru dan kontributor Kompas.com.  Continue reading

Binatang Tak Boleh Dipelihara

“Tiga jenis binatang ini jangan dipelihara, yaitu: malas, minder, dan sombong”.   Demikian nasehat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jero Wacik  kepada  para sarjana baru Universitas Esa Unggul, di Hotel Pullman, Central Park, Jakarta Barat, awal Oktober lalu.  Nasehat  yang disampaikan Wacik  dalam orasi  ilmiah itu  perlu menjadi  pegangan bagi  generasi muda yang sedang bersiap memasuki dunia kerja. Continue reading

Berbudi dan Berjudi

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, “berbudi” dan “berjudi”  jelas sangat berbeda. Berbudi merujuk pada hal  positif, sedangkan berjudi berkonotasi negatif. Bebudi merupakan sifat baik: penuh sopan santun, suka menolong, dan tidak sombong, sedangkan berjudi merupakan perbuatan mengadu nasib dengan bertaruh di arena judi.

Namun bagi orang Palembang (Sumatera Selatan umumnya),  berbudi dan berjudi memiliki hubungan sangat erat.  Berbudi, bahasa Palembang berarti berbohong.  Orang berjudi pasti suka berbudi (berbohong),  bahkan kalau tidak berbudi tidak mungkin bisa menang.  Sedangkan mereka yang suka  berbudi pasti  tahu resikonya sama dengan berjudi.  Jika menang (tidak ketahuan) bisa untung, namun bila kalah (ketahuan bohong) akan  jadi buntung. Continue reading

Menyoal ‘Wartawan Infotainment’

 

Sampai saat ini masih terjadi silang pendapat, apakah wartawan infotainment layak disebut wartawan?  Pasalnya, sebagian besar mereka yang mengaku sebagai wartawan infotainment hanya bekerja di producing house, bukan pada  media yang memberitakan hasil kerja mereka.   Juga dalam melaksanakan liputan, mereka sering dianggap melanggar  hak privasi sumber berita. Continue reading

SBY itu Jenius, Licin, atau Beruntung?

SBY – Boediono (Indonesia Satu)

Tiga sebab seorang bisa menjadi pemimpin dalam dunia politik: jenius, licin, dan atau beruntung. Karena kejeniusannya seorang mampu menyerap aspirasi rakyat dan mewujudkan aspirasi itu dalam program yang mensejahterahkan rakyat.  Rakyat jadi senang, lalu dengan sukacita mengangkatnya sebagai pemimpin.

Karena licin seorang juga bisa jadi pemimpin. Dengan kelicinannya, dia bermanuver bagai belut di belantara tipu daya dunia politik. Bahkan sering dialah menjadi  aktor utama dari tipu daya tersebut, misalnya dengan memanipulasi situasi untuk keuntungan kekuasaan. Orang yang licin biasanya akan mempertahankan kekuasaan dengan segala cara, tak peduli dengan cara mengelabui akal sehat. Continue reading

Watak di Balik Topi Polisi

Berbicara tentang dunia kepolisian mengingatkan saya pada hasil bincang-bincang dengan Jenderal Polisi (Pur) Chaeruddin Ismail, satu setengah dasawarsa silam. Mantan Pejabat Kapolri era Presiden  Gus Dur itu mengungkapkan, setiap polisi harus memiliki tiga watak berbeda, namun masing-masing watak harus diperankan sesuai tugas di lapangan.

Mengatur Ketertiban (kabar24.com)

PERTAMA:  ketika mengatur ketertiban, polisi akan berhadapan dengan rakyat. Dia  harus menyadari, rakyat yang dihadapi pada umumnya orang baik, tapi hanya karena keadaan, mereka menjadi tidak sabaran. Continue reading

Wong Palembang

Wong Palembang

Orang Palembang atau Wong Palembang itu unik, maka agar tak “salah persepsi” tentang mereka,  perlu bagi pembaca  memahami  masyarakat  Bumi Sriwijaya tersebut.  Utamanya  agar tidak terjadi miskomunikasi dan misinterpretasi  bila berkomunikasi  dengan mereka. Tapi karena tulisan ini disajikan Wong Palembang, maka tak usah terlalu serius membacanya.

Pertama, orang Palembang sering mengekspresikan dirinya sebagai orang paling kuat di dunia  (lebih kuat daripada Limbad he3x), karena paku dan keris sering dibikin sebagai sayuran. “Paku”, bahasa Palembang, berarti pakis dan “keris” adalah jagung muda (putik jagung). Bagi orang Palembang, jangankan paku dan keris, kapal selam juga jadi sarapan. “Kapal selam”, saya yakin semua sudah tahu, yaitu mpek-mpek yang isinya telur.

Makanan Palembang

Mpek-mpek dan Brugo

Kedua, orang Palembang tidak takut dengan binatang dan apapun yang galak, bahkan sangat senang dengan cewek/cowok galak. Maka siapapun yang galak datanglah ke Palembang, pasti akan disambut dengan suka-cita…. Galak, berarti mau, suka, atau doyan. Maka kalau di sana, sahabat akan sering ditanya, “galak dak….?” Sebaliknya, orang Palembang sangat benci pada orang yang berbudi  (di Palembang dibaca bebudi.). Di sana, bebudi artinya menipu. Inilah mengapa semboyan “SBY Berbudi” terpaksa diganti menjadi “SBY Budiono” (mungkin takut orang Palembang tahu kalau “SBY Berbudi” alias SBY berbohong heeee…).

Ketiga, di Palembang tidak mungkin ada kasus perbudakan, karena bagi orang Palembang budak itu sangat disayang. “Budak”, artinya anak kecil. Siapa sih yang tidak sayang pada anak kecil? Maka di Palembang tidak mungkin ada “budak nafsu”, karena  budak pasti belum ada nafsu he….

Keempat, kalau ke Palembang, walau kesal hindari mengucap kata ngacok. Orang Palembang sangat jengah dan tabu mendengar kata itu. “Ngacok”, bahasa Palembang berarti senggama. Maka kalau ada orang mengucapkan “ngacok umakmu”, pasti ujungnya berkelahi, bahkan tak jarang berakhir dengan pembunuhan.

Kelima, kalau mencari kenderaan umum, tidak usah ragu “naik taksi”. Ongkos taksi di sana sama dengan ongkos angkot, karena orang Palembang sering menamai angkot itu dengan “taksi”. Misalnya, naik taksi dari Ampera ke Tanggo Buntung, artinya naik angkot dari Jembatan Ampera menuju Terminal Tangga Buntung. Namun jangan heran kalau sopirnya bilang mau mencari pesisir. Si sopir bukan sedang mencari pantai, karena “pesisir” artinya penumpang.

Semoga tulisan ini dapat membantu wisatawan menikmati  bumi “wong kito”. Juga bisa santai  menikmati berbagai penganan khas Palembang, seperti: sambal tampoyak, pindang Meranjat, pepes lais, tekwan, lakso, burgo, dan aneka mpek-mpek — mpek-mpek dos, lenjer, tunuh, jangat, lenggang, dan kapal selam!