Plesetan Singkatan

Penggunaan singkatan di Indonesia sudah jadi budaya. Bahkan Indonesia pernah memiliki Presiden (Soekarno) yang sangat pandai  menciptakan  singkatan. Contoh beberapa singkatan sangat terkenal:  berdikari (berdiri di atas kaki sendiri), manipol (manifestasi politik), nekolim (neo kolonialisme), nasakom (nasionalis, agama, dan komunis), dan banyak lagi. Konon nama anak pertamanya,  GUNTUR,  singkatan dari ‘Gunakan Tenagamu Untuk Rakyat’. Continue reading

Merancang Tulisan Menarik

Hal pertama yang harus disadari seorang penulis, tidak ada kontrak dari khalayak kalau mereka akan membaca tulisan kita. Khalayak berhak memilih, mana tulisan layak dibaca dan mana yang layak dianggap sampah. Pokoknya, merekalah yang menentukan apakah suatu tulisan menarik atau pantas diabaikan.

Untuk membuat tulisan menarik, dua hal yang harus dilakukan:

  1. Mencari topik yang menarik
  2. Menyajikan tulisan secara menarik Continue reading

Menulis Singkat dan Padat

Karya Jurnalistik selalu dimuat dalam media massa  yang memiliki ruang/waktu terbatas. Maka semua karya IMG_2536jurnalistik harus ditulis secara singkat dan padat. Tujuannya agar bisa menyampaikan semua informasi yang dibutuhkan masyarakat dalam ruang/waktu yang tersedia.

Singkat, yaitu sedapat mungkin menulis kata, kalimat, maupun alinea secara singkat. Sedangkan padat artinya tidak menggunakan kata yang tidak perlu, apalagi mubazir. Penulisan singkat dan padat disebut  “menerapkan prinsip hemat kata”, yaitu  menyampaikan informasi selengkapnya menggunakan sedikit mungkin kata. Continue reading

Menulis itu Gampang?

Lebih seperempat abad lalu (1987), Kolomnis dan Budayawan ternama, Aswendo Atmowiloto menulis buku  “Mengarang itu Gampang”. Buku terbitan Gramedia ini sangat laris, sehingga harus cetak ulang lebih dari 10 kali. Namun sampai saat ini banyak orang masih kesulitan mengungkapkan fikiran dan perasaannya melalui tulisan.  Bahkan masih banyak yang sulit menulis sesuatu yang biasa  dia ceritakan secara lisan.

Di dunia jurnalistik juga sama.  Lebih 30 tahun lalu ,  Wartawan Senior, Rosihan Anwar mengungkapkan kegusarannya terhadap kerancuan bahasa pers (lihat: Anwar, Bahasa Jurnalistik Indonesia dan Komposisi). Namun sampai saat ini  masih banyak berita pers yang tidak akurat (view).

Lalu  apakah benar  menulis itu gampang?  Jawabnya bisa iya bisa juga tidak. Bagi mereka yang biasa menulis, terutama bagi penulis terkenal seperti Gonawan Mohamad, Mohamad Sobary, Emha Ainun Nadjib, dan banyak lagi, termasuk Aswendo sendiri,  menulis itu sangat gampang.  Tapi bagi kebanyakan orang,  terutama bagi para pemula, menulis  bukan pekerjaan mudah. Continue reading

Hati-hati Gunakan Kata

Ketika saya bertanya kepada mahasiswa,”Kapan anda/kamu nikah?”  biasanya mereka langsung jawab, “Belum siap, Pak!”  atau “Nanti, nunggu lulus, Pak!” Tapi ketika saya  tanyakan, “Kapan kamu/anda kawin?” mereka tersenyum, hanya  tersipu dan tidak mau menjawab. Ternyata ada yang salah dengan penggunaan kata ‘kawin’ tersebut.

Meskipun  ‘kawin’ itu berarti ‘nikah’ dan ‘nikah berarti ‘kawin’,  namun  antara ‘nikah’ dan ‘kawin’ mengandung makna berbeda.  Nikah hanya memiliki makna denotatif, yaitu melaksanakan ikatan perkawinan, sedangkan ‘kawin’, di samping memiliki arti yang sama dengan ‘nikah, juga mengandung makna konotatif, yaitu melakukan hubungan seks  (dengan atau tanpa ikatan perkawinan). Maka tidak heran kalau sering kita mendengar gurauan, ‘kawin sih sudah, tapi nikahnya belum’. Continue reading

Menyoal Akurasi Berita

Pengantar

arje

arje

Bagi kalangan jurnalis (wartawan), akurasi merupakan faktor sangat penting yang harus diperhatikan.  Seperti dikemukakan Sarah Niblock (2005:100), “Accuracy is not only legal and ethic reason, but also protect the integrity of the newspaper and the reporter team”.   Dengan demikian, pemenuhan syarat akurasi bagi wartawan dan juga media, bukan hanya untuk memenuhi ketentuan hukum maupun etika, tapi lebih penting dari itu, untuk melindungi profesi mereka sendiri. Continue reading

Bahasa Jurnalistik

Abstract

Bahasa Indonesia Junalistik, or some people call it Bahasa Junalistik Indonesia, is Indonesian Language that is used by journalists to write throght mass media. The use is following the rule of the Indonesian Language Structure, which corresponding to the characteristic of mass media. Generally, the are three rules of Bahasa Indonesia Junalistik: First, since mass media is created for general people, the language has to be “accurate and easy to understand”. Second, since mass media has limited space or time, the sentences have to be “simple and solid”. Third, since mass media always try to win competition, the whole package has to be “interesting’ Continue reading