Wisuda & Resepsi Pernikahan

Sebenarnya tidak ada hubungan antara wisuda dengan resepsi pernikahan. Kalaupun ada, karena wisuda sering dijadikan alasan mahasiswa menunda pernikahan. Lalu setelah wisuda, mereka mulai serius merencanakan  jenjang pernikahan.

Esensinya, wisuda sama saja dengan resepsi pernikahan, hanya acara serimonial untuk mengumumkan keberhasilan.  Namun bagi banyak orang, wisuda dan resepsi pernikahan  sangat dispesialkan, sehingga perlu ada “keheboan” menjelang dan pada pelaksanaan. Bagi mereka, makin meriah acara kian memberi kebanggaan. Padahal resepsi pernikahan tidak berdampak pada sahnya perkawinan. Jika ijab qabul atau ikrar perkawinan  sudah dilaksanakan maka sah juga pernikahan, ada atau  tanpa resepsi yang diselenggarakan. Begitu juga dengan wisuda, acara tersebut tidak memberi dampak pada gelar kesarjanaan.  Ada atau tanpa acara wisuda, bila sudah lulus semua matakuliah maka gelar sarjana sudah di tangan.

Lalu apakah wisuda perlu kemewahan? Tergantung keinginan dan kemampuan mereka yang menyelenggarakan.  Seperti halnya  perkawinan, ada yang cukup mengundang  tetangga, kerabat, dan handai tolan, tapi banyak  juga yang menyenggarakan pesta meriah  dengan biaya miliaran di resort bahkan di kapal pesiar mewah.

Wisuda juga begitu. Ada perguruan tinggi yang wisudanya sederhana. Contohnya IISIP Jakarta yang  merasa cukup menyelenggarakan wisuda di  Kampus Tercinta  saja. Wisudawan hanya mengenakan batik dan wisudawati mengenakan kebaya, lalu Senat Akademika perguruan tersebut semuanya berbatik ria.  Begitu juga dengan Balai Pendidikan dan Pelatihan Penerbangan (BP3) Banyuwangi. Mereka melaksanakan wisuda menggunakan  Adat Using, adat yang dianut masyarakat Banyuwangi.

Namun banyak juga  perguruan tinggi menyelenggarakan wisuda mewah, lengkap dengan segala atribut kebanggaan dan serimonial meriah. Tak ada yang salah dengan kemewahan, asalkan para wisudawan  tidak keberatan atas biaya yang harus dikeluarkan.  Toh acara tersebut untuk mereka juga,  yang bisa mengukir kenangan mendalam bagi mereka sebagai wisudawan.

Penggunaan atribut toga juga penuh dengan perlambang. Jubah hitam menandakan bahwa  wisudawan telah keluar dari dunia kegelapan dan cukup bekal dalam menyongsong masa depan gemilang. Topi persegi melambangkan bahwa sebagai sarjana mereka tidak akan menggunakan ‘kacamata kuda” dalam merlihat persoalan.  Dia harus  membuka diri pada berbagai sudut pandang dan mampu mengkaji setiap persoalan dari berbagai segi secara mendalam. Lalu  pemindahan tali topi dari kiri ke kanan melambangkan bahwa  wisudawan harus lebih banyak memaksimalkan penggunaan otak kanan. Harus lebih banyak menggunakan soft skill dibanding hard skill, karena kesuksesan seorang lebih banyak ditentukan oleh penggunaan otak kanan.

Namun yang perlu diingat, wisuda itu sama dengan resepsi pernikahan. Mewah dan meriahnya pesta  pernikahan bukan jamin langgengnya perkawinan. Begitu juga dengan wisuda. Meriah dan mewahnya acara wisuda bukan jaminan keberhasilan  dalam kehidupan. Usai pesta wisuda, para wisudawan akan hidup di tengah masyarakat dan masyarakat akan menilai wisudawan berdasarkan capaian keberhasilan dan kontribusi yang disumbangkan. Mereka tak peduli pada pesta yang pernah diselenggarakan!

Posted in Uncategorized

Hati-hati Penistaan

Penistaan, kalau merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti “penghinaan”, sehingga seseorang akan dianggap melakukan penistaan bila ada perkataan atau perbuatannya yang menyebabkan orang atau pihak lain merasa terhina.

Sejauh perkataan maupun perbuatan seseorang tidak menyebabkan ada orang lain merasa terhina, bukan termasuk sebagai penistaan. Sebaliknya, meski menyampaikan pujian, tapi membuat orang lain merasa terhina, bisa digolongkan sebagai  penistaan. Jadi kalau ada yang bilang: “Bang Arje ganteng!” bisa digolongkan sebagai penghinaan he.. he..

Hati-hati-dengan-InformasiPersoalannya sekarang, kita berada di dunia tanpa sekat. Meski bicara dan melakukan sesuatu di ruang terbatas, bisa bablas seketika beredar tanpa batas. Perbuatan dan perkataan yang tidak  ditujukan untuk menghina, bisa dianggap menista oleh masyarakat di luar lokasi kejadian. Lihatlah betapa gonjang ganjing pelaporan penistaan yang kita saksikan sekarang bukan oleh masyarakat yang menyaksikannya.

Karena “kasus penistaan” bisa saja mendera semua orang, maka alangkah baiknya kalau kita saling mengingatkan agar hati-hati dengan perkataan. Hati-hati pula mengupload perbuatan mapun  perkataan yang potensial menimbulkan persoalan.

Posted in Uncategorized

Kontoversi AHOK

bintang.com

bintang.com

AHOK itu hanya terdiri empat hurup, tapi kontroversi tentang Ahok seolah tak bertepi. Ada orang yang melihat Ahok dari kiri dan bilang itu AHOK. Ada yang sama melihatnya dari kiri, tapi tak terlihat ada hurup “k”, maka bilangnya AHO. Ada orang yang melihat dari kanan dan bilang KOHA. Ada yang sama melihat dari kanan tapi tak terlihat ada hurup ” a”, maka bilangnya KOH.

Ada lagi orang yang melihat dari tengah baru tengok kiri dan kanan, maka dia bilang HAOK atau malah HOAK.

Sebenarnya tak ada yang aneh dengan perbedaan. Apalagi demokrasi memang membuka peluang akan adanya perbedaan pandangan. Namun seharusnya beda pandangan bisa didiskusikan, sehingga bisa ditemukan kesepakatan. Ironisnya, perbedaan tersebut telah menjadi sumber pertengkaran dan peretas tali persahabatan.

Posted in Uncategorized

Tersandung Hukum Karena Kata

arje3Ketika menulis “Hati-hati Gunakan Kata”,  utamanya untuk menasehati diri sendiri.  Seiiring berjalan waktu, nasehat tersebut makin relevan setelah satu persatu tokoh yang biasa memberi nasehat menggukan kata, justru tersandung kasus hukum karena persoalan “kata”. Contoh Mario Teguh,  Basuki Tjahaja Purnama, dan Rizieq Shihab, tersandung kasus hukum karena kata   yang diucapkan melalui media.

Mario Teguh, motivator terkenal yang sering menghiasi layar kaca, dituntut mantan istrinya karena mengucapkan kata tuduhan  “berbagi  ranjang dengan pria lain”. Dia juga  di-bully  masyarakat   karena menyampaikan pernyataan panjang lebar menyudutkan Ario  Kiswinar, padahal itu anaknya.

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok tersandung kasus penistaan agama gara-gara ucapan: “Jangan mau dibohongi pakai Al Maida 51″, sehingga menyinggung para ulama. Bahkan Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa bahwa Ahok telah menistakan ulama dan agama Islam. Coba kalau Ahok bilang: “jangan mau dibohongi politikus menggunakan ayat kitab suci”, mungkin yang tersinggung  hanya para politisi yang biasa menjaring dukungan menggunakan ayat kitab suci. Begitu juga dengan Rizieq Shihab, tersandung kasus hukum gara-gara mengucapkan kata: campurracun; Pancasila Soekarno, ketuhanan ada di pantat; kalau Yesus Tuhan, siapa bidannya; dan Jenderal otak Hansip”. Khusus yang disebut terakhir, coba  kalau dia bilang: “Jenderal otak udang”, paling yang tersinggung hanya Jenderal, sedangkan udang tidak mungkin ikut marah.

Mungkin kita perlu mengingat lagi nasehat orang tua zaman dulu: ” Lida tak bertulang, jangan sampai mulutmu jadi harimaumu, lalu menerkam lehermu sendiri!”

Posted in Uncategorized

Turunan vs Tanjakan

Di tengah persaingan politik, banyak orang berdebat soal turunan dan tanjakan. Bagi si mata kucel atawa lamur, akan fokus melihat pada turunan. Soalnya dia cepat silau pada turunan raja, turunan kaya, apalagi turunan suci. Sedangkan pada turunan biasa, apalagi turunan bejat,  gak bakalan dianggap karena gak pantas jadi apa, kecuali jadi bejat juga.

Padahal kita lihat, ada orang bernama Aceng, keturunan Ajengan, tapi tingkahnya memalukan. Ada orang benama Gus, turunan Kyai, tahunya menipu sana-sini. Juga ada yang menggunakan nama Habib, tahunya bukan turunan Nabi dan kelakuannya bikin miris!

Beda dengan si mata bening alias belo, lebih fokus memandang tanjakan. Baginya, meski berasal dari lumpur, kalau iman, ilmu, harta, atawa jabatannya menanjak pantas diacungi jempol. Sebaliknya, meski  menggunakan nama turunan, kalau begajul tetap dibilang bejat.

Mata saya agak rabun sih, tapi gak lamur karena belum katarak!

Posted in Uncategorized

Makar dan Pakar

Arje KIP-1Beruntung tinggal di kampung, kenal dan dikenal semua tetangga, termasuk  PaKar  dan MaKar.  Ketika acara pengajian dan arisan lingkungan bisa berkumpul para PaKar:  Pa Karmun, Pa Kardjo, Pa Kartono,  Pa Karno, Pa Kartidjo, Pa Kartino, Pa Kasono, dan  Pa Kardi. Mereka semua juga aktifis. Selalu aktif pada setiap kegiatan memajukan kampung.

Namun aktivis sejati adalah Ma Kar. Pukul dua dini hari sudah ke pasar belanja bahan dagangan. Lepas subuh keliling kampung mendorong gerobak jualan bahan lauk pauk dan sayuran. Pukul dua hingga lima sore menjajakan penganan gorengan. Pokoknya dia benar-benar aktivis teladan. Semua orang memangilnya Ma Kar karena namanya Karlina dan usianya sudah 70-an.

Posted in Uncategorized

Politik dan Bola

katawarta

katawarta.com

Politik dan bola kurang lebih sama,  sama-sama merupakan pertarungan melelahkan dan menegangkan. Baik pertandingan politik maupun bola sangat seksi dijadikan arena perjudian. Meski diawasi wasit dan hakim garis, kedua pertarungan tersebut  berpeluang main curang.

Pelaku politik dan pemain bola sama-sama mengenakan kostum kebanggan. Pada bola, kecil peluang adanya penyusupan pemain lawan. Sedangkan di politik sering terjadi penyusupan dengan mengenakan kontum lawan.

Baik di politik maupun di bola, banyak suporter  dan pengamat yang ikut meramaikan pertandingan. Pada pertandingan bola, semuanya jelas dan gampang dibedakan, sehingga tak mungkin ada suporter dan pengamat turun ke gelanggang. Sedangkan dalam politik, sulit dideteksi ketika suporter dan pengamat bahkan wasit nimbrung jadi pemain dan berpihak pada salah satu kontestan.

 

 

Posted in Uncategorized

Hobi Demonstrasi

Tidak semua orang memiliki hobi. Maka bila seorang punya hobi biasanya akan ditekuni. Apalagi kalau hobi tersebut sudah menjadi profesi, maka sangat sulit disuruh berhenti.  

Rhoma Irama dan Elvi Sukaesi memiliki hobi dan profesi bernyanyi, maka di usia lanjut mereka tetap menggeluti hobi bernyanyi. Megawati Sukarnoputri, Surya Paloh, dan Aburizal Bakrie hobi berorganisasi, maka meski sudah tua tetap tak ingin mengundurkan  diri. Goenawan Mohamad, AS Hikam, dan Izharry hobi menulis, maka hingga kini masih menulis dan menebar inspirasi.

keepo.me

keepo.me

Ketika kuliah saya punya teman yang hobi demonstrasi. Sering dengan gagah berani dia bersitegang dengan TNI  dan polisi. Belakangan saya dengar, demonstrasi ternyata bisa juga jadi profesi. Teman kuliah saya menjadi salah seorang yang mengeluti profesi demonstrasi..

Bagi mereka yang memiliki hobi dan profesi demonstrasi tak  mungkin bisa berhenti karena imbauan Kyai dan MUI. Bahkan tak mungkin surut meski diancam oleh polisi.

Moga setiap demonstrasi yang digelar di negeri ini tidak mengoyak perasaan NKRI.

Posted in Uncategorized

Manusia Diumpama Hewan

Ketika Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bilang “lebaran kuda”, istilah tersebut langsung viral di media sosial. Tak jelas apa yang dimaksud SBY, namun banyak yang menduga penggunaan kata “kuda” berhubungan dengan peristiwa sehari sebelumnya, Presiden Jokowi menunggang kuda bersama Prabowo.

Penggunaan nama hewan sebagai lambang komunikasi sudah  biasa di Indonesia. Namun penyebutan nama hewan tak pernah spesifik merujuk ke seseorang, kecuali untuk memuji. Contohnya Bung Kancil untuk Adam Malik yang lincah, singa podium untuk Soekarno yang pidatonya selalu memukau, dan burung merak untuk WS Rendra yang selalu tampil mempesona.

kompasiana

kompasiana

Kebanyakan hewan digunakan untuk menggambarkan sifat. Misalnya khusus untuk laki-laki mata keranjang, ada istilah: buaya darat (buas terhadap wanita), bandot tua (suka daun muda), kucing garong (penyuka sembarang perempuan), dan bajingan tengik (tak setia sehingga tak bisa dipercaya). Khusus untuk penjahat, contohnya: tikus kantor (koruptor) dan bajing loncat (pencuri dengan cara meloncat dari kenderaan). Khusus sebagai penghalusan  istilah untuk pelacur, yaitu:  kupu-kupu malam (pelacur jalanan) dan ayam kampus (mahasiswi  pelacur).

Hewan yang digunakan  untuk menggambarkan sifat secara umum, misalnya: tenaga kuda (kuat),  ular kepala dua (tidak bisa dipercaya),  otak udang (bodoh), otak keledai (dungu),  muka badak (tak bermalu), pakai kacamata kuda (tak peduli pendapat orang lain).

  Juga hewan  digunakan untuk perumpamaan, contohnya: licin bagai belut,  lucu kayak kelinci, jinak-jinak merpati, alis seperti semut beriring, dan seindah mata elang.

Ada lagi hewan yang digunakan untuk memaki, sebagai ekspresi kemarahan,  atau untuk melecehkan orang, misalnya babi, anjing, monyet, dan bangsat! Namun ada juga hewan yang selalu digunakan untuk kebanggaan, contohnya: Macan Kemayoran dan Maung Bandung.

Satu hal yang tak pernah ada, hewan diistilahkan seperti orang!

Posted in Uncategorized

Media dan Naluri Sosial

Naluri sosial mendorong seorang ingin menjalin hubungan dan bersama-sama dengan manusia lain. Naluri ini melahirkan dua naluri lainnya, yaitu: 1) naluri ingin tahu, mendorong kita ingin mengetahui tentang segala sesuatu, termasuk  tentang manusia lain, dan 2) naluri berkomunikasi, mendorong kita saling berkirim pesan dengan manusia lain.

okezone

okezone

Bagi saya, media sosial seyogyanya digunakan untuk memenuhi naluri sosial tersebut. Sebagai sarana merekatkan silaturrahmi, menumbuhkan simpati dan empati, serta berbagi keceriaan dan informasi antar sesama anak negeri. Bukan sebagai ajang membakar emosi, menyemai benci, dan memupuk antipati. 

Ironis jika media sosial dipakai sebagai sarana provokasi!!!  Apalagi dipakai untuk menumpahkan kebencian berbau SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) yang bisa memecah belah NKRI.

 

Posted in Uncategorized

U lama dan U baru

Entah ingin menguji atau sekedar mau tahu, seorang teman WA menanyakan apa yang dimaksud dengan “Ulama”. Saya mencoba menjelaskan sesuai pengetahuan, bahwa ulama itu tokoh agama Islam yang mempunyai pengetahuan luas tentang keislaman.

“Apa mungkin ada ulama palsu?” tanyanya mengejutkan saya.
“Ya, mungkin saja!” jawab saya sekenanya. “Jangankan ulama, nabi aja ada yang palsu!”
“Bagaimana membedakan ulama asli dan yang  palsu?” desaknya.

Saya menangkap ada hal ganjil dalam pertanyaan tersebut. Apalagi sekarang sedang terjadi “perang” pendapat antar ulama dan antar orang yang mengaku ulama. Saya menduga, penjelasan saya  akan dijadikan jastifikasi untuk mengelompokkan para ulama.  “Aduh kalau soal itu, maaf saya gak bisa menjelaskan. Saya gak tahu!” jawab saya tegas.   

Saya sengaja tidak jawab pertanyaan tersebut karena tidak memiliki kompetensi dan kemampuan menjawab persoalan seperti itu. 

arje“Paling saya bisa membedakan antara ‘U’ lama dan ‘U’ baru”, goda saya disertai gambar “emoticon” senyum tiga kali.

“Bagaimana?” tanyanya.

“ya,  kalau U yang lama, lambangnya “oe”,  seperti digunakan pada nama Soekarno dan Ali Moechtar Hoeta Soehoet, sedangkan U yang  baru seperti pada nama Gus Dur dan Yusuf Mansyur.

Alhamdulillah kami bisa menutup pembicaraan dengan ringan. “Bisa aja Abang ini!” ujarnya disertai gambar “emoticon” tujuh kali.

Posted in Uncategorized

Penyakit dan Fikiran

arje-fikiranMembaca artikel kesehatan: “90% penyakit berasal dari fikiran” (view), saya jadi mikir, pantaslah kalau  semua rumah sakit keluberan pasien. Banyak orang sekarang sengaja mencari penyakit dengan cara “apapun dijadikan fikiran”, termasuk sesuatu yang sebenarnya bukan persoalan!!!

Contoh masih banyak orang sibuk men-share berbagai tulisan bernada permusuhan. Untuk apa? Hanya menambah beban fikiran! Bilangnya sih untuk diskusi, tapi diskusi  yang tak berkesudahan! Mereka berdebat dalam grup yang dikhususkan untuk pertemanan dan persaudaraan. Akhirnya antar mereka kehilangan candaan!  

Diskusi ngotot-ngotoan seperti itu akan menyebabkan ketersinggungan, membangkitkan emosi, membakar amarah, dan menyimpan dendam. Semuanya berpotensi menimbulkan penyakit akibat gangguan fikiran!!! 

Posted in Uncategorized

Berfikir Dikotomi

Susah berfikir jernih kalau otak sudah diseting dikotomi: kawan vs lawan, musuh vs sekutu, padahal dunia diciptakan Tuhan warna-warni,  indah bagai pelangi pagi hari. Memang di akhirat Tuhan hanya menyediakan surga dan neraka, tapi masing-masing ada tingkatannya. Jika merasa ibadahnya mampu mencapai surga paling tinggi, tak usah apriori pada mereka yang berprinsip “asalkan neraka bisa dihindari”. -arje2016

Posted in Uncategorized

Antara Introspeksi dan Membela Diri

IntrospeksiIntrospeksi itu berseberangan artinya dengan membela diri. Kalau Introspeksi, berusaha melihat ke dalam diri sendiri apa saja yang perlu dikoreksi. Sedangkan membela diri, berusaha meyakinkan orang bahwa dirinya bersih. Orang yang mengintropeksi  diri, tidak pernah menyalahkan orang lain atas sesuatu “musibah” yang dialami, sedangan orang membela diri sering mencari kambing hitam untuk pembenarkan diri.

Paling gampang bagi kita melihat ke luar dibandingkan ke dalam,  maka ada pepatah: “Semut di seberang lautan bisa nampak tapi gajah di pelupuk mata tak kelihatan”. Juga tidak mudah mengoreksi sendiri “kebenaran” yang  telah diyakini, apalagi bila “kesombongan” sudah menyelusup ke dalam hati. Biasanya, orang yang percaya diri berlebihan paling gampang dirasuki kesombongan, sehingga tanpa sadar ucapan dan tindakannya jadi bumerang.

Barangkali kasus Sis Mario Teguh dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), bisa jadi cerminan. Keduanya “gonjang-ganjing” karena (maaf)  terbersit kesombongan dalam ucapan.  Mario ngomong “kasar”  pada Ario Kiswinar ketika tampil di Kompas TV. Dengan lantang bilang:  “Hei Kiswinar …. ” pada anaknya yang merasa terabai. Sedang Basuki terkesan selalu merasa pintar dan benar termasuk ketika menggunakan kata kasar. Maka tak sadar “kecoplos” bilang :  “Dibohong  pakai Almaidah 51 dan macam-macam itu..” ketika bicara di Pulau Seribu. 

Sekedar saran agar bisa introspeksi, terutama sarannya untuk diri saya sendiri. Tetaplah mawas diri dan jangan menutup diri dari koreksi, meski terasa pahit sekali. Juga jangan terlena pada puja puji yang membuat kita jadi tinggi hati!

 

 

Posted in Uncategorized

Kebutuhan dan Keinginan

Orang paling menderita adalah yang  tidak bisa membedakan  antara kebutuhan (need)  dan keinginan (want), akhirnya tidak mampu memenuhi kebutuhan karena mengejar keinginan. Kalau dia jadi pemimpin, tidak bisa membedakan antara kebutuhan banyak orang dan keinginan segelintir orang.  Biasanya dia akan mengutamakan keinginan segelintir orang dan mengabaikan kebutuhan banyak orang. -arje

Posted in Uncategorized

Sombong

Kesombongan sering menyelusup ke dalam diri tanpa disadari. Bersarang jauh di sudut relung hati. Bila tak mampu dikendali, kesombongan akan mewujudkan diri melalui ucapan, sikap,  tingkah, maupun selebrasi. -arje

Posted in Uncategorized

Penistaan Agama

Di akhir 1980-an, Salman Rushdie, pengarang terkenal asal India berkewarganegaraan Inggris menghina Islam melalui novelnya yg laris manis, Satanic Verses (ayat-ayat setan). Umat Islam dunia bereaksi sangat keras, bahkan dengan acaman pembunuhan. Salman yang dilindungi pemerintah Inggris, menolak minta maaf meski jelas-jelas dia menyamakan Allah dengan mahluk dan melecehkan Nabi Muhammad dan keluarganya.

Tapi Islam dan Nabinya tidak  ternista oleh seorang Salman Rushdie. Meski Satanic Verses masih beredar sampai saat ini, Islam di Eropa makin jaya dan makin banyak warga Eropa yg mengagumi sosok Nabi Muhammad. Sekarang penduduk Muslim Eropa mencapai 53 juta orang. 

Ahok -monitorday

Ahok -monitorday

Belajar dari kasus tersebut,  saya yakin Islam tidak  mungkin bisa ternista hanya karena ucapan seorang Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.  Apalagi Ahok telah menyatakan penyesalan dan minta maaf pada umat Islam. Saya yakin dengan kejadian ini Islam makin jaya, karena akan  makin banyak orang membaca Al-Quran, minimal mengkaji Surat Almaidah ayat 51.

Kita tak pernah tahu rahasia Tuhan dengan  kasus yang membuat gonjang ganjing suhu politik Indonesia. Mungkin ini cara Dia mengingatkan  para ulama agar lebih serius menyiapkan tokoh Islam yg lebih kompeten dan amanah.  Mungkin cara Tuhan meluruskan fikiran para politisi Islam,  agar lebih mengutamakan persatuan. Saya yakin, kalau ada satu tokoh Islam yang  mumpuni, tidak mungkin Ahok  menang di DKI.

Posted in Uncategorized

Mengapa Orang Palembang?

Baru mau menyeruput tekwan di depan Stasiun Tangerang dapat pertanyaan mengagetkan. “Bapak orang Palembang kan? Bagaimana pendapat Bapak tentang anak muda asal Palembang yang nekad melukai polisi Tangerang?” tanya Bapak di sebelah yang sedang memesan mpek-mpek.

Kaget karena baru tahu kalau anak muda yang terbunuh karena menyerang polisi itu orang Palembang. Juga kaget tak menyangka dapat pertanyaan tiba-tiba seperti itu. Saya menjawaab normatif saja: “Ya kita gak tahu pengaruh dari mana? Meski katanya yang bersangkutan jarang bergaul di lingkungannya, bisa saja dia mendapat pengaruh melalui internet dari Syiria”.

Raut wajah Bapak itu menunjukkan dia tidak puas dengan jawaban tersebut.  Saya yakin dalam  hati dia mau bertanya: “Kenapa orang kampung Lho bisa nekad dan kejam seperrti itu?”

arje

arje

Sambil menyendok habis tekwan saya menjawab dalam  hati. “Kenekatan dan kebrutalan gak ada hubungan dengan  asal daerah. Meski  orang  Palembang sering bilang  “galak”, tapi  bukan berarti  gampang emosional. Meski  mereka sering nekat minum “cuka”, tapi tak pernah membuat  jadi beringas. Meski orang Palembang  hobi makan “paku”, tak membuat kami ingin melukai orang. Meski mereka  biasa mengunyah “kapal selam”, tak menjadi indikasi akan kejam terhadap orang. Bahkan meski orang Palembang umumnya senang “model” panas, tapi tak berarti mereka suka pornografi.

(Catatan:  galak, bahasa Palembang berarti suka;  cuka = kuah mpek-mpek; paku = pakis; kapal selam = mpek-mpek telor;   model = mpek-mpek berkuah sop; tekwan = hampir sama dengan model tapi  bentuknya kecil)

Posted in Uncategorized

Drama Pengadilan Jessica

Sahabat, drama pengadilan Jessica Kumala Wongso memasuki babak akhir. Tayangan pamungkas disiarkan Kamis, 27 Oktober 2016 dengan judul “Palu Hakim Penentuan Nasib Jess”.  Merupakan “live drama” terpanjang yang pernah ada, yaitu 32 episode dengan durasi dua hingga 12 jam, disiarkan langsung oleh tiga stasiun teve: TV-One, I-News TV, dan Kompas TV.

Sidang Jessica - sindonews

Sidang Jessica -sindonews

Bagi tiga stasiun teve tersebut, berakhirnya drama ini akan sangat disesalkan. Hanya pada kasus seperti ini mereka bisa menerapkan penuh prinsip ekonomi klasik:  “berusaha dengan modal sekecil-kecilnya untuk mendapatkan laba sebesar-besarnya”. Demi meraup uang miliaran dengan cara gampang mereka  berani mengabaikan peringatan Komisi Penyiaran Indoensia (KPI) dan himbauan Dewan Pers.

Namun berakhirnya sidang Jessica akan sangat disyukuri oleh masyarakat, karena akan bisa lagi menikmati keragaman program pada tiga stasiun televisi tersebut.   Semoga di masa yang akan datang, frekuensi milik publik bebas dari  “perkosaan” oleh stasiun teve hanya untuk mengisi pundi-pundi materi!

Posted in Uncategorized

Dukun dan Teroris

Sahabat, pernah dengar tentang dukun yang katanya mampu mendatangkan uang alias kekayaan? Orang yang  hanya

Akibat Dukun -poskota

Akibat Dukun -poskota

menjanjikan, tapi tak bisa membuktikan untuk  dirinya sendiri! Kalau memang dia bisa mendatangkan uang, mengapa pula dia  harus minta mahar berupa uang?

Saya melihat, dukun seperti itu setali tiga uang dengan  bos teroris. Menjanjikan syurga, tapi tak berani mengambilnya untuk diri sendiri! Dia suruh orang lain bunuh diri dengan janji mendapatkan kemewahan syurgawi didampingi banyak bidadari. Logikanya, kalau syurga itu pasti didapat dengan bunuh diri, pastilah  dia akan menikmatinya lebih dulu.

Ironisnya banyak orang masih  percaya pada makhluk seperti itu!

Posted in Uncategorized

Gatot

Gatot, dalam bahasa Jawa merupakan nama penganan cemilan, tapi tidak mungkin orang menamakan anaknya Gatot terinspirasi oleh enaknya cemilan tersebut. Seingat saya, orang bernama Gatot, semuanya berbadan kekar dan tampan, sehingga saya menduga nama Gatot merupakan singkatan Gagah dan Berotot.

Mungkin nama tersebut terinspirasi tokoh Gatot Koco yang  perkasa atau oleh Jenderal Gatot Subroto, sang pahlawan. Harapan orang tuanya, agar Gatot tumbuh menjadi pria gagah, tampan, dan jadi panutan.

Saat ini ada tiga nama Gatot yang  ngetop, sering jadi pemberitaan. Ketiganya gagah, tampan, dan berkedudukan, yaitu:  Gatot Nurmantyo,  Jenderal Angkatan Darat  yang gagah dan sekarang  menjabat sebagai Panglima TNI; Gatot Pujo Negoro, mantan Gubernur Sumatera Utara yang ganteng; dan  Gatot Brajamusti, pria flamboyan pemilik padepokan di Sukabumi yang baru terpilih sebagai Ketua Parfi (Persatuan Atis Film Indonesia).

Sayangnya, dari tiga Gatot tersebut,   hanya Gatot Nurmantyo yang layak jadi panutan. Sedangkan Gatot Pujo Negoro  ditangkap KPK karena korupsi dan Gatot Brajamusti diciduk polisi karena narkoba dan kasus perkosaan. Sekarang duo Gatot  ini meringkuk di hotel prodeo sebagai pesakitan.

Posted in Uncategorized

Pengangguran

Sahabat, kemarin dapat pertanyaan mengejutkan dari mahasiswa: “Apakah Bapak pernah menganggur?”

Spontan saya jawab: “Nggak pernah!

Menganggur adalah pilihan hidup, sedangkan bagi saya pilihan itu terlalu mewah sehingga saya tak mungkin bisa punya pilihan seperti  itu. Saya harus  tetap bekerja untuk  menghidupi diri sendiri dan keluarga  yang  menjadi tanggungan. Prinsipnya, meski tak punya pekerjaan tetap tapi saya harus tetap bekerja. Meski tak berpendapatan tetap tapi saya harus tetap berpendapatan. Maka saya tak pernah menangisi nasib pernah menjadi penjual ikan asin, memasok kue dan gorengan ke warung, menjadi sales asuransi, calo tanah, penulis media dan biografi, guru kursus, dan sebagainya, termasuk jadi dosen!

Di rumah pun saya tak pernah memilih sebagai pengangguran. Sampai sekarang  kadang saya  masih biasa membantu mencuci piring, mencuci pakaian dan memasak untuk diri sendiri, menyapu halaman, dan melakukan hobi —- bakar sampah!

Posted in Uncategorized

Orang Betawi

Foto: liputan6

KH Zainuddin MZ  - Foto: liputan6

Di tengah panasnya suhu politik menjelang Pilkada Jakarta 2017, banyak orang bertanya: “Bagaimana sikap orang Betawi?”. Soalnya di semua lini sikap mereka terbelah. Misalnya Engkong Ridwan Saidi mendukung Anies Baswedan Sandiaga Uno, kelompok Haji Lulung mendukung Agus Harimurti – Silviana Murni, sedangkan Djan Fariz  memilih pasangan calon pertahana. 

Mungkin sedikit gambaran tentang orang Betawi bisa didapat dari penjelasan Almarhum KH Zainuddin MZ ketika memberi ceramah Maulid, di Pitara Depok, Juni 2002.  Menurut Dai sejuta umat tersebut, orang Betawi paling demokratis dibanding Sunda, Jawa, maupun Palembang. Soalnya, orang Betawi tak ada rajanya, sehingga tidak feodalistik dan bisa menerima berbagai suku yang datang ke daerahnya.

“Jeleknya, orang Betawi itu selalu bersikap santai dan gede ambek!” ujar ulama Betawi tersebut. Akibatnya, orang suku lain sudah pergi kemana-mana, orang Betawi masih jalan di tempat. Juga kalau orang Betawi sudah ngambek, urusan jadi repot. “Kayak gilingan padi, walau didorong orang sekampung, tetap tak bergerak”, tegasnya.

Namun hebatnya orang Betawi bisa terkenal tanpa mengandalkan tampang. Contohnya Mpok Nori, bisa terkenal meski tampang pas-pasan  (Catatan: kayaknya contoh ini bisa berlaku juga untuk Bokir, Malih Tongtong, Mandra,  Omas,  Bolot, yang bisa terkenal tanpa mengandalkan tampang).

Posted in Uncategorized

Terpleset Plesetan

Habib Rizieq - Arrahmah.com

Habib Rizieq – Arrahmah

Awalnya saya menduga Ustadz  Habib Muhammad Rizieq Shibab silaf ketika memelesetkan ucapan “sampurasun”, salam bahasa Sunda menjadi “campur racun”. Tapi setelah menyaksikan ekspresi wajah tokoh Front Pembela Islam (FPI) tersebut ketika meneriakkan “campur racun” yang disiarkan detik.com, saya yakin itu memang sengaja. Terlihat dia menyimak ucapan sampurasun dari jamaah, mengulang ucapan itu satu kali,  lalu berteriak kencang “campur racun!”

Penegasan upacan itu bukan karena hilaf, terlihat dari pernyataan Abdul Qohar, Ketua FPI Jawa Barat: “FPI tak akan mundur juga minta maaf. Apa yang disampaikan soal sampurasun itu sepenuhnya adalah jala dakwah”.

Sulit memahami maksud  sang Habib  karena tidak utuh menyaksikan ceramah pendiri FPI tersebut. Namun berdasarkan hasil  baca sana sini, saya menduga ustadz Rizieq sedang melampiaskan marah kepada Bupati Purwakarta, Dedi Maryadi yang dianggap telah melakukan tindakan menyimpang dari agama. Misalnya mendirikan patung tokoh pewayangan yang bagi FPI dianggap berhala. Juga adanya gosip, Dedi Maryadi menikah dengan Nyi Roro Kidul, lelembut Ratu penguasa Laut Selatan. Bahkan Bupati Purwakarta itu telah membuat kereta kencana untuk Sang Ratu yang ditempatkan di Gedung Negara alias Bale Nagri.
 
Namun apapun alasannya,  memelesetkan “sampurasun” menjadi  “campur racun” pasti menuai persoalan.  Ucapan “Sampurasun” bukan hanya milik  Dedi Mulyadi,  tapi milik semua warga berbahasa Sunda. Kata salam tersebut biasanya diucapkan penuh hikmat oleh para tokoh dan generasi tua suku Sunda.  Di beberapa kabupaten Jawa Barat, termasuk Purwakarta, “sampurasun” selalu diucapkan pada setiap acara resmi — biasanya setelah “Assalamu’alaikum”.  Ucapan salam “urang Sunda” tersebut setara dengan ucapan “Tabik Pun”  yang  wajib diucapkan oleh Orang Lampung pada setiap acara resmi di Propinsi Lampung.
Kang Emil -tribunnews

Kang Emil -tribunnews 

Wajar jika  Aliansi Masyarakat Sunda jadi meradang dan menganggap ucapan Ustadz Habib Rizieq sebagai pelecehan terhadap budaya Sunda. Mereka yang terdiri dari Angkatan Muda Siliwangi, Sundawani Wirabuana, GMBI Jabar, Damas, Bamus Jabar, Forum Ki Sunda, Paguron Mande Muda Pusat, Padepokan Kibun Sunda, Berantas Jabar Banten, Ki Buyut Sunda Wiwitan, Padepokan Mandala, Padepokan Jogo Jemur, Pitaloka Purwakarta, Jangkar, Jaga Lembur dan Lemuria Spritual Sentra menuntut Rizieq meminta maaf atas ucapannya itu.
 
Belum ada tanda Rizieq dan Front Pembela Islam akan memenuhi tuntutan Aliansi Masyarakat Sunda tersebut, meski  banyak tokoh Sunda, termasuk  Kamil Ridwan (Kang Emil), Walikota Bandung dan Acil Bimbo telah mengimbau agar Habib minta maaf.  Namun yang pasti, Angkatan Muda Siliwangi telah mengadukan kasus pelecehan tersebut ke Polda Jawa Barat.
Jika kasus ini tidak bisa diselesaikan secara musyawarah seperti yang dianjurkan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, maka bukan tak mungkin sang Habib akan terjerat kasus hukum. Akankah Habib Rizieq terpleset akibat plesetan?!

Continue reading

Posted in Uncategorized

Merumuskan Pertanyaan Wawancara

wawancara-kompas-tv

wawancara-kompas-tv

Sebagaimana dikemukakan Stewart L. Tubbs dan Sylvia Mess (1996), seorang pewawancara yang baik haruslah dapat membimbing arah percakapan melalui serangkaian pertanyaan. Dengan demikian, faktor pertanyaan menjadi bagian paling penting dari suatu kegiatan wawancara sehingga pertanyaan harus dirancang sedemikian rupa agar mampu menjaring informasi yang diinginkan. 

Dalam merumuskan pertanyaan sebaiknya memperhatikan nasehat Herbert Strenz, bahwa dalam wawancara bukanlah terletak pada pertanyaan dan bagaimana pertanyaan itu diajukan, tapi apakah dengan cara itu Anda bisa mendapatkan informasi yang bernilai untuk khalayak Anda. Maka dalam merumuskan pertanyaan perlu memperhatikan hal sebagai berikut: Continue reading

Posted in Uncategorized