Antara Introspeksi dan Membela Diri

IntrospeksiIntrospeksi itu berseberangan artinya dengan membela diri. Kalau Introspeksi, berusaha melihat ke dalam diri sendiri apa saja yang perlu dikoreksi. Sedangkan membela diri, berusaha meyakinkan orang bahwa dirinya bersih. Orang yang mengintropeksi  diri, tidak pernah menyalahkan orang lain atas sesuatu “musibah” yang dialami, sedangan orang membela diri sering mencari kambing hitam untuk pembenarkan diri.

Paling gampang bagi kita melihat ke luar dibandingkan ke dalam,  maka ada pepatah: “Semut di seberang lautan bisa nampak tapi gajah di pelupuk mata tak kelihatan”. Juga tidak mudah mengoreksi sendiri “kebenaran” yang  telah diyakini, apalagi bila “kesombongan” sudah menyelusup ke dalam hati. Biasanya, orang yang percaya diri berlebihan paling gampang dirasuki kesombongan, sehingga tanpa sadar ucapan dan tindakannya jadi bumerang.

Barangkali kasus Sis Mario Teguh dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), bisa jadi cerminan. Keduanya “gonjang-ganjing” karena (maaf)  terbersit kesombongan dalam ucapan.  Mario ngomong “kasar”  pada Ario Kiswinar ketika tampil di Kompas TV. Dengan lantang bilang:  “Hei Kiswinar …. ” pada anaknya yang merasa terabai. Sedang Basuki terkesan selalu merasa pintar dan benar termasuk ketika menggunakan kata kasar. Maka tak sadar “kecoplos” bilang :  “Dibohong  pakai Almaidah 51 dan macam-macam itu..” ketika bicara di Pulau Seribu. 

Sekedar saran agar bisa introspeksi, terutama sarannya untuk diri saya sendiri. Tetaplah mawas diri dan jangan menutup diri dari koreksi, meski terasa pahit sekali. Juga jangan terlena pada puja puji yang membuat kita jadi tinggi hati!

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>